Di Surabaya, Jokowi Raih 70,16 Persen, Saksi Prabowo Tolak Tanda Tangan

Kamis, 9 Mei 2019 - 14:58 WIB

FAJAR.CO.ID, SURABAYA–Instruksi Badan Pemenangan Nasional (BPN) agar saksi-saksi pasangan Prabowo-Sandi, menolak tanda tangan ditaati betul. Setidaknya, itu terjadi di Surabaya.

KPU Surabaya telah merampungkan rekapitulasi tingkat kota. Hasilnya, pasangan Jokowi-Amin meraup 1.124.966 suara atau 70,16 persen. Pasangan Prabowo-Sandi hanya mendapat 478.439 suara atau 29,84 persen.

Saksi rekapitulasi Kota Surabaya pasangan Prabowo-Sandi, Agus Fachruddin mengatakan, dirinya tidak menandatangani hasil rekapitulasi tersebut. ”Sudah ada perintah dari atas (BPN, Red),” katanya.

Selain itu, Agus menyebutkan ada sejumlah kecurangan yang ditemukan pihaknya. ”Ada salah satu TPS di Asemrowo yang membuka kotak suara tanpa kehadiran saksi pasangan 02. Juga, masih banyak lagi,” ujarnya.

Hanya, ketika ditanya soal pelaksanaan coblosan secara umum, Agus mengatakan tidak ada kendala berarti, Sementara itu, Sukadar, saksi pasangan Jokowi-Amin, mengungkapkan bahwa hasil tersebut merupakan aspirasi rakyat Surabaya. ”Ini hasil pilihan rakyat Surabaya yang harus dihormati,” tuturnya.

Ketika ditanya soal tidak tanda tangannya saksi BPN, Sukadar mengatakan bahwa itu pilihan kubu lain yang juga harus dihormati. ”Itu hak mereka. Tapi, yang jelas kemenangan Jokowi ini riil di Surabaya,” tambahnya.

Secara terpisah, Ketua KPU Surabaya, Nur Syamsi mengatakan, tidak ada masalah jika saksi dari BPN tidak bertanda tangan. ”Tidak membatalkan hasil rekapitulasi atau menggugurkan hasil. Keberatan mereka akan dicatat,” jelasnya.

Tim Hukum Nasional Dinilai Tepat Hadapi Amien Rais dan Habib Rizieq

KPU Khawatir Terganggu Aksi 9 Mei

Selain itu, hasil rekapitulasi KPU Surabaya menunjukkan, ada delapan nama caleg yang lolos ke Indrapura (DPRD Jatim) dari dapil Jatim 1. Yang paling banyak adalah PDIP dengan mengirimkan tiga wakil. Yakni, Armuji, Agatha Retnosari, dan Agustin Poliana. Lima lainnya dibagi rata masing-masing oleh PKB, Gerindra, Golkar, PKS, dan Demokrat.

Mereka adalah Syamsul Arifin dari PKB, Hadi Dediyansah dari Gerindra, Blegur Prijanggono dari Golkar, Arif Hari Setyawan dari PKS, dan Hartoyo dari Partai Demokrat. ”Ini adalah hasil rekapitulasi. Penetapannya akan menunggu proses PHP (perselisihan hasil pencoblosan, Red) selesai,” kata Nur Syamsi. (jp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.