Kelompok Solihin Sasar People Power agar Konflik Lebih Besar?

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA–Kekuatan kelompok teroris yang dipimpin Solihin alias Abu Faisal, memang terus berkurang dengan penangkapan delapan anggotanya.

Namun, masih ada sejumlah orang anggotanya yang masuk daftar pencarian orang (DPO). Ancaman aksi teror dari kelompok tersebut belum sepenuhnya hilang.

Karopenmas Divhumas Polri, Brigjen Dedi Pasetyo menuturkan, kekuatan kelompok Solihin ini tetap diwaspadai. Melemahnya kelompok teror yang membuat bahan peledak TATP ini bukan berarti Densus 88 Anti Teror bisa tenang. ”Sebab, ada pendalaman lain dalam struktur kelompok ini,” tuturnya.

Kelompok yang sangat terorganisir ini masih memiliki kaki tangan. Walau, sebagai pemimpin Solihin telah tertangkap. ”Densus 88 dan Satgas masih harus bekerja menangani kelompok ini,” ujarnya.

Bulan puasa dinilai tidak akan menjadi pertimbangan bagi kelompok teror untuk menghentikan aksi. Bahkan, sebagian pakar terorisme menyebut kelompok teroris memandang puasa merupakan waktu yang efektif melakukan amaliyah. ”Karena itu mitigasi terus dilakukan,” ujarnya.

Upaya mencegah aksi teror terjadi akan lebih efektif bila masyarakat terlibat. Bila menemukan hal yang mencurigakan, lebih baik dilaporkan ke petugas. ”Jangan main hakim sendiri,” terang mantan Wakapolda Kalimantan Tengah tersebut.

Apa tujuan kelompok Solihin berniat beraksi saat people power? Dedi menjelaskan bahwa kemungkinan besar kelompok ini ingin mendorong ke arah konflik dengan skala yang lebih besar. ”Karena itu momentum itu ditunggu,” jelasnya.

Bila terjadi aksi teror saat terjadi people power, dia menuturkan, bahwa kecurigaan akan muncul dibenak setiap orang. Kondisi itu yang ingin diciptakan oleh kelompok yang dinilai lebih berbahaya dari kelompok Sibolga. ”Apalagi, militansinya tinggi sekali kelompok ini,” ujarnya.

Sementara Pengamat Terorisme Al Chaidar menuturkan, memang bulan puasa tidak menjadi alasan kelompok teroris untuk menghentikan aksinya. Sebab, dalam pandangan mereka apa yang dilakukannya merupakan jihad. ”Itu di mata mereka,” urainya.

Mau tidak mau, satu-satunya cara menghentikan kelompok ini tentunya menghentikan langkah kelompok teroris sebelum beraksi. Sehingga, tidak banyak jatuh korban jiwa. ”Itu yang sekarang dilakukan Densus 88 Antiteror,” jelasnya.

Baca: Diduga Selewengkan Rp1 Miliar, Pengacara UBN: Tidak Lepas dari Agenda Ijtima Ulama III

Di sisi lain, langkah penguatan regulasi untuk menekan kemampuan membuat bahan peledak makin urgen. Sejak dulu, kelompok teroris degan berbagai cara masih saja bisa mendapatkan atau membuat bahan peledak. ”Ini perlu ketegasan para wakil rakyat,” ujarnya.

Sebelumnya, Al Chaidar mengusulkan untuk memperketat salah satu bahan dasar yang bisa digunakan meracik bahan peledak. Seperti, zat aseton yang biasanya terkandung di penghapus cat kuku. (jpnn)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment