Paradigma Politik Generasi Milenial

0 Komentar

Oleh: Syahrir Nganro (Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Unhas)

Pemilihan legislatif dan presiden – wakil presiden merupakan pesta demokrasi lima tahunan. Pelbagai calon kontestan mulai bermunculan tidak terkecuali figur baru (sebagai pilihan alternatif) juga ikut ambil bagian untuk memberikan kontribusi pikiran-pikiran yang konstruktif demi kemajuan bangsa dan negara.

HASIL survei popularitas, akseptabilitas, dan elektabilitas yang menjanjikan tentu menjadi rekomendasi sekaligus penopang rasa percaya diri bagi para kontestan untuk ikut berkompetisi. Di sisi lain momentum politik juga dijadikan sebagai ajang untuk menunjukkan eksistensi, kapasitas dan kualitas diri masing-masing kandidat.

Salah satu kategori kontestan dalam pesta demokrasi berasal dari generasi muda. Banyak dari mereka ikut andil pada perhelatan akbar tersebut. Ini menunjukkan bahwa pemuda di era milenial telah menentukan jalan politiknya. Sekaligus sebagai petanda bahwa kondisi statis, sinis dan apatisme kaum milenial di ruang politik sudah menurun bahkan narasi-narasi politik yang disampaikan mampu menerjemahkan kondisi yang dihadapi oleh rakyat.

Fenomena ini cenderung terlihat pada setiap momentum politik, terjadinya gelombang migrasi secara besar-besaran yang disebabkan karena adanya kesadaran dan paradigma tentang politik. Namun, di sisi lain tantangan terberat yang harus dihadapi adalah konsistensi pada pilihan politik.

Istilah politik identitas menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses demokrasi, melainkan sering digunakan sebagai sebuah statemen politik yang senantiasa digiring ke ruang publik kemudian menjadi konsumsi umum. Tujuannya adalah terbangunnya persepsi publik serta adanya insentif elektoral kepada kandidat. Selain itu, isu SARA dan sentimen kedaerahan merupakan produk nyata dari virus demokrasi yang sering dijumpai sehingga perlu dihilangkan. Karena hal ini justru dapat menggeser rasionalitas konstituen dan menurunkan kualitas demokrasi. Oleh karena itu, muatan kampanye perlu dimodifikasi sekreatif mungkin agar mudah diterima di pasaran.

Pertarungan ketat masing-masing kandidat sangat berpengaruh terhadap suhu politik, tampilan secara opensif dan inpresif tentu menjadi bagian strategi yang dimainkan untuk memengaruhi psikologi lawan. Hal ini berkaitan dengan hasil pemetaan kekuatan-kelemahan di lapangan serta hasil analisa temuan-temuan yang berpotensi mengganggu basis utama yang dianggap sebagai lumbung suara untuk memperoleh dukungan secara total. Di sisi lain, permainan gimik dan gestur dianggap mampu merefresentasikan pesan yang ingin disampaikan ke publik sebagai upaya untuk menjelaskan tentang isi pikiran.

Menurunnya reputasi kandidat menjadi pemantik untuk melakukan gerakan stimulus sebagai muatan dari manuver politik. Munculnya prilaku adopsi gaya berpolitik tokoh tertentu, dianggap mampu memperoleh dukungan politik yang sama agar dapat memenangkan pertarungan. Berbagai upaya branding senantiasa dilakukan secara masif untuk mengangkat popularitas dan akseptabilitas. Oleh sebab itu, praktik intervensi yang dilakukan oleh aktor dengan motif politik tertentu pun menjadi wujud kongkret yang biasa kita temui. Kedewasaan menyikapi setiap permasalahan yang ada, menjadi cerminan kepribadian bagi kandidat di alam demokrasi yang begitu dinamis.

Berbagai program-program unggulan yang ditawarkan oleh masing-masing kandidat pun ikut memberikan magnet tersendiri bagi konstituen untuk menentukan pilihan dan sikap politik yang rasional dalam hal ini kesesuaian antara visi-misi dan kebutuhan pembangunan bangsa dan negara. Konsep, teknis dan metodologi menjadi muatan strategi pemenangan yang senantiasa ditrasformasikan ke mesin politik agar bekerja lebih terstruktur, sistematis, dan massif dalam menggalang dukungan politik baik dari unsur relawan, simpatisan, loyalis, tim pemenangan maupun partai-partai pengusung yang merangkap sebagai pendukung.

Tarik ulur dukungan sebagai wujud dinamisasi hak politik menjadi hal lumrah dalam sebuah kontestasi (oposisi-koalisi). Perbedaan-perbedaan pilihan politik seyogianya dimaknai sebagai sebuah seni berdemokrasi, termasuk didalamnya kebebasan menentukan pilihan tanpa adanya tekanan dan paksaan dari manapun. Sekaligus menjadikan bukti bahwa kita telah berpartisipasi aktif dalam menjunjung tinggi nilai-nilai berdemokrasi yang mengedukasi. Intensitas monitoring dan evaluasi terhadap agenda-agenda politik yang dilakukan oleh tim khusus secara berkelanjutan, tentu bertujuan untuk mengukur kemampuan dan memetakan kekuatan di masing-masing basis.

Permasalahan, kendala dan kebutuhan tiap wilayah tentu menjadi data pokok untuk dianalisa serta memformulasikan rencana kerja politik berikutnya. Akhir kata, suka cita dan euforia berdemokrasi yang dipertontonkan oleh pendukung kontestan, tidak terlepas dari adanya komitmen dan konsistensi dukungan yang terbangun sejak masa deklarasi pencalonan kandidat. Tentunya “PR BESAR” telah menanti dan menjadi tanggung jawab penuh bagi pemenang untuk lebih agresif dan bertindak progresif dalam menerjemahkan permasalahan sosial dan pemerataan pembangunan yang akan direaliasikan lewat program-program yang telah terpublikasi melalui panggung kampanye. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...