J-h-d

0 Komentar

Oleh: Mohd. Sabri AR

ADA bisik yang mengalir lirih: di dalam napas sejarah, di luar kemilau surga, manusia acapkali dikerkah kecewa. Tapi, sebagaimana asa, kecewa juga terbit dari lubang yang bisa melumatnya kembali. Mungkin lubang itu sejenis rasa syukur yang luas, tapi tak selalu bisa dirumuskan.

Begitulah, ketika “jihad”, sebuah narasi agung—yang diandaikan lahir dari titah kudus Ilahi—identik dengan tubuh tercabik bersama serpihan logam, dan darah yang muncrat, dan gelegar bising sebuah bom —di sana, sejatinya bukan jejak dari setangkup ideology atau ajaran, tapi luka perih yang menggema dari tafsir sang demagog.

Dalam tradisi Islam, sejatinya anggitan jihâd, ijtihâd, dan mujâhadah berakar dari kata j-h-d yang searti dengan “sungguh-sungguh” atau “berkomitmen kuat.” Jihâd mengandaikan kesungguhan seseorang menghibahkan diri dan hartanya di jalan Allah (wajihîdun fi sabîli al-Llah bi amwâlikumwaanfusikum ), dan karenaitu lebih bersifat material-fisikal.

Sementara ijtihâd lebih pada kesungguhan secara intelektual seseorang mengkaji, meneliti, menelaah “teks-teks Ilahi”—baik yang terhampar di dalam Kitab Suci Alquran dan sunnah maupun yang meluber pada tekssosial, teks sejarah, teks semesta-raya dan teks semesta-diri—untuk kebaikan, martabat, dan kemuliaan bersama kemanusiaan.

Yang terakhir, mujâhadah, menekankan aspek kesungguhan spiritual, aspek inner space manusia, yakni sebuah ikhtiar di mana seseorang dengan tekad yang kukuh menemukan kembali diri –autentik atau diri yang fitri, yang dalam tradisi filsafat Islam, diandaikan sebagai sesuatu yang terdapat di dalam diri dan “identik dengan Kenyataan Ilahi”. Tradisi sufistik menyebutnya sebagai “tajalli” atau “manifestasi” emanatif Allah dalam setiap diri.

Lamat-lamat, saya terkenang dengan selarik bait lagu yang populer di tahun 1960-1970-an “Pangilan Jihad”: Kalam suci menyentuh qalbu berjuang/maju serentak mencapai kemenangan/untuk negara, bangsa dan keadilan/panggilan jihad hidupkan/Allahu Akbar Allahu Akbar Allah Allahu Akbar…. dalam bait lain dinyatakan: majulah serentak genggamkan persatuan/Kalam Tuhan.“

Anggitan “jihad” yang digemakan dalam lagu tersebut sangat sejuk, sesuatu yang mulia, dan merupakan grand narrative sebagai Kalam Tuhan. Itu sebab, ketika “jihad” diterjemahkan secara pejoratif oleh para demagog, maka yang terbit kemudian adalah konstruksi yang bermatraliar, distortif dan berpotensi menyuburkan sikap intoleransi yang justru bertentangan secara diametral dengan ide moral Kitab Suci.

Dengan begitu, spirit jihâd, tak bisa dipisahkan dan musti ditopang oleh kekuatan-intelektual ijtihâd dan keluhuran-spiritual mujâhadah, karena pada intinya, jihâd, ijtihâd, dan mujâhadah sebagai sebuah kesatuan ontologism memiliki satu tujuan: berkhidmat kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk merawat kemulian kemanusiaan universal. Makna jihad yang terakhir ini, dengan sendirinya senapas dengan misi kebangsaan kita, yang mengandaikan persatuan di dalam kepelbagaian atau bhinneka tunggal ika.(*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment