J-h-d


Oleh: Mohd. Sabri ARADA bisik yang mengalir lirih: di dalam napas sejarah, di luar kemilau surga, manusia acapkali dikerkah kecewa. Tapi, sebagaimana asa, kecewa juga terbit dari lubang yang bisa melumatnya kembali. Mungkin lubang itu sejenis rasa syukur yang luas, tapi tak selalu bisa dirumuskan.Begitulah, ketika “jihad”, sebuah narasi agung—yang diandaikan lahir dari titah kudus Ilahi—identik dengan tubuh tercabik bersama serpihan logam, dan darah yang muncrat, dan gelegar bising sebuah bom —di sana, sejatinya bukan jejak dari setangkup ideology atau ajaran, tapi luka perih yang menggema dari tafsir sang demagog.Dalam tradisi Islam, sejatinya anggitan jihâd, ijtihâd, dan mujâhadah berakar dari kata j-h-d yang searti dengan “sungguh-sungguh” atau “berkomitmen kuat.” Jihâd mengandaikan kesungguhan seseorang menghibahkan diri dan hartanya di jalan Allah (wajihîdun fi sabîli al-Llah bi amwâlikumwaanfusikum ), dan karenaitu lebih bersifat material-fisikal.Sementara ijtihâd lebih pada kesungguhan secara intelektual seseorang mengkaji, meneliti, menelaah “teks-teks Ilahi”—baik yang terhampar di dalam Kitab Suci Alquran dan sunnah maupun yang meluber pada tekssosial, teks sejarah, teks semesta-raya dan teks semesta-diri—untuk kebaikan, martabat, dan kemuliaan bersama kemanusiaan.Yang terakhir, mujâhadah, menekankan aspek kesungguhan spiritual, aspek inner space manusia, yakni sebuah ikhtiar di mana seseorang dengan tekad yang kukuh menemukan kembali diri –autentik atau diri yang fitri, yang dalam tradisi filsafat Islam, diandaikan sebagai sesuatu yang terdapat di dalam diri dan “identik dengan Kenyataan Ilahi”. Tradisi sufistik menyebutnya sebagai “tajalli” atau “manifestasi” emanatif Allah dalam setiap diri.

Komentar

Loading...