Sirkulasi Makanan dalam Tubuh Selama Berpuasa

Jumat, 10 Mei 2019 - 08:05 WIB
Syamsul Rahman. (int)

Oleh: Syamsul Rahman (Dosen Ilmu Pangan Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar)

Puasa yang kita lakukan adalah ibadah kepada sang Pencipta yang memang memerintahkan kita untuk berpuasa.

MAKA perintah ini pun dilaksanakan sebagai bentuk ketaatan dan menjunjung tinggi segala perintah-Nya. Apa yang sudah diungkap oleh ilmu pengetahuan tentang manfaat kesehatan dalam berpuasa, itu merupakan suplemen yang akan semakin mendongkrak keimanan kita terhadap kebenaran Rasul pengemban risalah syariat dan juga kecintaan kita terhadap Allah sang Pencipta yang menurunkan perintah untuk berpuasa.

Mengenai makanan dan pola makan selama berpuasa, Islam tidak hanya menyinggung tentang makanan dan kandungannya saja, tapi juga kesempurnaan dan kesehatan makanan serta cara mengonsumsinya. Sebab, pola makan yang buruk dan berlebih-lebihan dalam mengonsumsi makanan dari yang seharusnya, serta tidak memerhatikan keseimbangan kandungan makanan, akan mengakibatkan munculnya berbagai macam penyakit.

Pola sirkulasi makanan

Komposisi makanan terdiri atas zat-zat seperti karbohidrat, protein, lemak, dan beberapa macam vitamin, serta berbagai macam bentuk mineral. Semua zat ini dicerna di dalam lambung dan usus dan dihaluskan menjadi unsur-unsur sederhana yang mudah diresap. Proses pencernaan tersebut terdiri atas beberapa fase. Pertama, fase pencernaan dan penyerapan. Fase ini memakan waktu 3 sampai 4 jam sesuai dengan kadar makanan yang dikonsumsi dan jenis kandungannya.

Misalnya. karbohidrat akan dicerna menjadi zat gula sederhana seperti glukosa. Setelah diserap, zat ini kemudian dialirkan melalui pembuluh darah menuju ke hati. Lalu 60 persen dari zat tersebut mengalami perubahan menjadi glikogen untuk disimpan dan menjadi lemak tripartit untuk disimpan di jaringan lemak. Sedangkan sisanya sebanyak 20–40 persen akan dialirkan ke seluruh jaringan tubuh.

Kedua, fase setelah penyerapan yang dimulai 4–6 jam setelah mengonsumsi makanan. Fase ini berlangsung selama 6–12 jam, terkadang bisa mencapai 40 jam setelah proses penyerapan. Pada fase ini akan terjadi beberapa hal diantaranya;

(1) tubuh akan mengandalkan simpanan makanan untuk mendapatkan energi. Apabila kadar glukosa dalam darah menurun, maka zat glikogen yang ada di hati akan berubah menjadi glukosa untuk menyuplai energi bagi tubuh; (2) dalam kondisi terus menurunnya kadar glukosa dan diiringi dengan berkurangnya insulin serta meningkatnya hormon glikogen, maka tingkat perubahan glikogen menjadi glukosa terus meningkat; (3) hasil dari meningkatnya kadar hormon tersebut, maka terhentilah pembentukan lemak yang kemudian mengalami diskomposisi dan meningkatlah konsentrasi asam lemak bebas yang akan menjadi sumber energi utama bagi kebanyakan jaringan dalam tubuh.

Puasa sembuhkan berbagai penyakit

Dengan berpuasa, keseimbangan nutrisi dapat terbantu. Beberapa pakar kesehatan mengatakan ketika tubuh tak terisi makanan, terjadi keseimbangan nutrisi yang mengakibatkan asam amino dan berbagai zat lainnya, dapat membantu peremajaan sel dan komponennya dalam memproduksi glukosa darah dan menyuplai asam amino dalam darah sepanjang hari. Selama berpuasa, kita tidak mengonsumsi apapun termasuk air putih pada siang hari. Alih-alih membuat tubuh kelaparan, hal tersebut rupanya baik untuk tubuh karena dapat menimbulkan beban kerja pada organ pencernaan, usus, lambung, hati, kandung empedu, pankreas, dan ginjal.

Tak hanya itu, berpuasa juga merupakan momen penting bagi tubuh untuk memulihkan diri, karena memecahkan makanan membutuhkan banyak energi. Selain itu, puasa bisa menghidupkan kembali zat insulin dalam tubuh. Untuk penyakit-penyakit seperti tubercolosis, radang sendi, pencernaan, lupus, dan penyakit kulit, maka puasa sangat membantu proses penyembuhannya. Puasa juga dapat meningkatkan masa hidup karena tugas dari alat-alat pencernaan beristirahat, seperti pada hewan ketika berganti kulit juga mereka berpuasa agar bisa hidup lebih lama.

Selanjutnya, mengutip hasil penelitian yang dilakukan di Universitas Newcastle, menemukan bukti bahwa dengan berpuasa penyakit diabetes tipe 2 akan berkurang. Para peneliti melakukan riset selama delapan pekan kepada 11 orang pasien dengan total kalori yang dikurangi dari berpuasa sebanyak 600 per hari. Hasilnya kesebelas orang tersebut didiagnosis bebas dari diabetes tipe 2 setelah melakukan puasa. Studi lainnya, juga menemukan bahwa jika penderita segera melakukan puasa, maka penyakit tersebut juga akan lebih cepat tertangani. Roy Taylor, orang yang memimpin penelitian tersebut, berpikir bahwa puasa bermanfaat karena menghilangkan lemak berbahaya di dalam dan sekitar organ tubuh manusia, termasuk pengendalian gula di pankreas dan hati. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.