Umbas : Narasi Curang Drama yang Tidak Bermutu

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta pemilihan legislatif tahun 2019 telah usai. Kini KPU memasuki tahapan pleno rekapitulasi perhitungan suara. Namun, tudingan kecurangan kembali dialamatkan kepada KPU pada rekapitulasi tingkatt Kabupaten/Kota.

Menanggapi hal tesebut, Wakil Kepala Rumah Aspirasi Jokowi-Amin, Michael Umbas mengungkapkan bahwa, TKN Joko Widodo-Ma’ruf Amin (Jokowi-Amin), TKD, termasuk Tim Relawan, menerima setiap rekapitulasi laporan hasil pleno penghitungan suara Pilpres tingkat kabupaten/kota. “Seluruh proses rekapitulasi berlangsung transparan, akuntabel, jujur dan adil sekaligus demokratis,” tuturnya.

Dalam pelaksanaanya, Umbas mengungkapkan bahwa KPU bersama Bawaslu didaerah turut mengundang langsung tokoh masyarakat, agama, dan unsur-unsur Muspida setempat. “Artinya tidak hanya saksi partai maupun saksi dari pasangan 01 dan 02 yang mengikuti pleno tersebut,” ungkapnya.

Faktanya, Umbas menegaskan bahwa, tidak ada kecurangan dari tahapan penghitungan suara Pilpres secara berjenjang. Menurutnya, akan sangat kecil kemungkinan kecurangan bisa terjadi. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya mata yang mengawasi jalannya proses ttersebut. “Hampir seluruh elemen masyarakat ikut mengawasi. Bahkan media setiap daerah ikut mengawasi dan memberitakan, jadi kalau terjadi kecurangan sangat mudah ketahuan,” katanya.

Maka, tudingan curang yang kembali dialamatkan merupakan fitnah yang tidak berdasar. “Curang, curang dan curang jelas bagian dari kebohongan serta sama sekali tidak berbasis fakta. Drama tak bermutu,” imbuhnya.

Tudingan curang yang kini mencuat, Umbas menilai bahwa ada bentuk penggiringan opini bahwa kecurangan secara TSM (terstruktur, sistematis, masif) terjadi saat Pilpres. “Sekali lagi, fakta harus dijadikan acuan bersama. Sekarang pleno kabupaten/ kota hampir rampung. Sama sekali tak ada temuan TSM,” ujarnya.

Umbas mengharapkan agar segala bentuk halusinasi yang dipaksa menjadi hal rasional untuk mengelabui publik dapat dihentikan. “Sekali lagi, hampir dalam setiap pleno rekapitulasi, tokoh-tokoh agama dan masyarakat justru memuji dan mengapresiasi Pilpres 2019 yang transparan. Semua bisa akses data dan rekapitulasi suara. Ini bukti nyata transparansi. Kebenaran tentu saja akan berdiri tegak, tak peduli seberapa kuat kalian megguncangkannya,” pungkasnya. (yog)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...