People Power Dan Penjual Sayur


Oleh: M. Qasim MatharKeluarga itu hidup di sebuah rumah sederhana di pinggir sebuah kota. Wasi, laki-laki kepala rumah tangga di rumah itu, bekerja sebagai peladang di tanah kebun sayur miliknya yang tidak luas, di samping rumahnya. Dengan hasil menjual sayur itulah, Wasi menghidupi Isawe, istrinya, dan Laide, putra dan anak tunggal mereka. Kini Laide sudah hampir selesai studinya di universitas.Seperti biasa, Wasi ke pasar berjualan. Di pasar, orang-orang ramai berbincang, seraya berjual beli. Perbincangan mereka mulai dari harga sayur hingga juga ke soal-soal kehidupan masyarakat, seperti politik. Soal demo besar akan terjadi, juga tak luput dari percakapan penjual sayur dan pembelinya. Percakapan yang didasarkan dan bersumber dari “katanya…” dan “katanya…”, berpindah dari satu mulut ke mulut lainnya. “Katanya,… karena pemilu curang, akan ada demo besar…!”Setibanya di rumah dari pasar, Wasi ingin menyampaikan kabar akan ada demo besar menolak pemilu kepada anaknya, Laide. Sebagai mahasiswa, tentu Laide tahu soal demo itu. Isawe, istrinya, hanya menunjukkan wajah cemas mendegar cerita suaminya. Benar, setelah Laide datang, cerita tentang demo besar itu disampaikan kepadanya.Setelah mendengar cerita ayahnya, Laide berkata bahwa yang dimaksud demo besar itu ialah people power. People power merupakan gerakan rakyat dalam bentuk demonstrasi besar-besaran berlangsung di seluruh negeri, bertujuan menjatuhkan penguasa yang sedang memerintah. Mendengar gambaran tentang people power, ibu Laide semakin menampakkan rasa kekhawatirannya. Ia pikir, jika people power terjadi, akan sulit suaminya pergi ke pasar berjualan.

Komentar

Loading...