Pemilu Ideal

Oleh: Aidir Amin Daud

Berkali-kali pemilu pascareformasi, sepertinya permasalahan pemilu tidak pernah selesai. Selain berbagai tudingan dari berbagai unsur peserta pemilu, gugurnya 554 petugas KPPS di sejumlah wilayah Indonesia, saat menjalani tugas, cukup menyentak banyak kalangan. Kita menyatakan duka yang mendalam dan mengirimkan doa untuk para “pahlawan demokrasi” ini. Pernyataan terkait gugur massal itu, menyatakan bahwa gugurnya ratusan petugas penyelenggara Pemilu 2019 dikarenakan sistem yang ada memaksakan seseorang untuk bekerja siang malam tanpa kenal waktu. Sehingga para petugas tersebut kecapean, kurang tidur dan akhirnya jatuh sakit serta meninnggal dunia. *** Pemilu tahun 2004, sesungguhnya adalah pemilu serentak minus pilpres. Pemilu 2004, memilih calon anggota DPR-RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Sesungguhnya, jika dihitung-hitung, beban untuk perhitungan suara Pilpres hanya menghabiskan waktu sekitar satu jam saja. Pilpres hanya punya dua pilihan 01 atau 02 — dengan jumlah kertas suara maksimal hanya 300 lembar.

Sebaiknya memang tak perlu terlalu jauh perdebatan soal ini. Secara pribadi, saya termasuk barisan yang berpikir sistem pemilu serentak ini sudah baik tetapi tentu memerlukan beberapa perbaikan. Namun kurang terasa bijaksana, jika masalah tahun ini, sistem harus dirombak total, meminjam pepatah, muka buruk, cermin dibelah.

Saya teringat petugas yang mengurus haji di Kementerian Agama, hampir dua bulan bekerja siang malam mengurus segala “tetek-bengek” kelengkapan haji jamaah, termasuk berangkat ke tanah suci, tetap baik-baik saja. Begitu juga dengan “karyawan bank” yang biasanya kerja dari pagi sampai malam, bertahun-tahun tetap berada dalam keadaan baik-baik saja.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : asrie


Comment

Loading...