Petani Indonesia di Mata Dunia

0 Komentar

Oleh: Sumiati (Mahasiswa Pascasarjana Agribisinis, Institut Pertanian Bogor)

Secara geografis, Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis dengan curah hujan dan cahaya matahari yang sangat menunjang bagi pertumbuhan tanaman.

HAL ini membuat negara Indonesia mempunyai karakteristik sebagai negara agraris, sehingga potensi sumber daya alam yang sangat besar. Potensi sumber daya alam yang dimiliki dapat dilihat dari kekayaan melimpah yang dimiliki Indonesia terutama dalam sektor pertanian.

Petani adalah orang yang paling berperan penting dalam keberlanjutan hidup manusia, khususnya di Indonesia yang bahan pangan pokoknya adalah berasal dari pertanian, sehingga banyak yang menggantungkan hidupnya di bidang tersebut, baik untuk kebutuhan pokok keluarganya maupun sebagai mata pencahariannya.

Namun, apa yang terjadi jika petani tidak sehat bahkan tidak bisa bercocok tanam lagi? Pertanyaan ini tentu telah hadir di benak semua kalangan baik dari kalangan pelajar, maupun dari kalangan orang-orang yang terlibat dalam pertanian, maka sudah barang tentu petani harus terjamin kesehatannya. Hal ini mudah untuk diwujudkan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya.

Kategori petani sejahtera adalah yang mampu memenuhi kebutuhan pokoknya dan sehat secara jasmani dan rohani, agar kategori tersebut dapat terpenuhi, maka petani harus terbiasa mengonsumsi pangan sehat, seperti sayuran, karena sayuran memiliki manfaat yang luar biasa bagi tubuh antara lain sebagai sumber vitamin dan serat, dan yang paling penting adalah menopang kehidupan manusia untuk menjaga agar tubuh tetap sehat. Karena itu, sayuran merupakan bahan pangan yang sangat memberi manfaat bagi tubuh. Terutama untuk mendukung kebutuhan akan vitamin.

Vitamin merupakan kolompok senyawa organik yang tidak termasuk dalam golongan protein, karbohidrat maupun lemak. Kebutuhan vitamin ini relatif kecil, namun peranannya dalam tubuh sangat penting. Seharusnya petani mampu medorong dirinya untuk menjadi seorang petani yang mengalami perubahan setiap tahunnya, karena sumber daya yang dimilikinya.

Petani Indonesia banyak yang belum mengerti betapa pentingnya asupan gizi bagi tubuh sehingga mereka menanam namun hasilnya tidak berdampak pada kesehatan mereka. Berbeda dengan petani di luar negeri khususnya di Taiwan negara yang kami kunjungi pada tanggal 8 April 2019 baru-baru ini, yaitu sebagai salah satu kegiatan International Agribusiness Field Trip yang diadakan tiap tahun oleh program studi Magister Sains Agribisnis IPB.

Di sana kami berkunjung ke “Yes Health iFarm” saya merasakan perbedaan petani di negara tersebut dengan petani di negara Indonesia. Mereka sangat memperhatikan petaninya agar sukses dalam bertani. Ujar staf grup Yes Health, kunci keberhasilan pertanian menurut mereka adalah sehatkan petaninya agar dapat mencapai produktivitas yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan memberikan pengetahuan tambahan bagi petani mengenai kesehatan agar petani mengonsumsi bahan pangan yang mengandung vitamin dan serat yang dapat diperoleh dari buah dan sayur.

Dari contoh pertanian yang berhasil saya nikmati di negara Taiwan, saya belajar bahwa petani harus menyadari potensi yang dimilki dan dapat dikembangkan, agar dapat dikategorikan sukses, maka petani harus berorientasi bisnis yang menerapkan konsep agribisnis yang mengikuti tahapan sebagai berikut:
1. Memanfaatkan kelimpahan sumber daya yang dimiliki. 2. Berbasis investasi, dan 3. Berbasis inovasi.

Petani harus cerdas, harus perduli pada kesehatan dan tidak boleh sendiri, melainkan harus didampingi mulai dari penyaluran informasi dan pengetahuan mengenai bercocok tanam sampai pada kebutuhan asupan gizi mereka yang harus terpenuhi dengan baik. Perlu dipahami bahwa “keran” impor tidak akan terbuka apabila kebutuhan pangan seluruh masyarakat dapat terpenuhi. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kemudian agar importasi tidak terjadi melainkan harus melakukan eksportasi di bidang pertanian.

Begitu berlimpah ruah kekayaan Indonesia yang dapat membawa petani ke arah yang lebih baik dari sektor pertanian jika dilihat dari kacamata umum. Namun, kekayaan tersebut tidak mampu mengangkat mereka dari garis kemiskinan lantaran teknologi yang kurang memadai, sehingga dalam hal ini sangat diharapkan uluran tangan yang berwenang agar menjadi penyambung tangan bagi petani untuk membawanya ke kehidupan yang lebih layak sesuai dengan kekayaan alam dan kemampuan bertaninya.

Demikian sistem pertanian dan petani di Indonesia yang masih sangat membutuhkan lirikan pemerintah agar dapat memajukan negeri ini, karena telah diyakini bahwa “petani sejahtera, bangsa Berjaya. Maka jika hal tersebut mampu terlaksana dengan baik, Indonesia akan sejahtera dan berbahagia. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...