Puasa, Penawar Racun Hati

0 Komentar

Oleh: Hafiz Elfiansya Parawu (Dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Makassar)

“Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

JIKA tubuh kita terkena racun, pastinya kita akan menjadi begitu kalut hingga mengupayakan segala macam cara untuk mengeluarkan racun tersebut dari tubuh kita. Diri ini tidak akan merasa tenang sebelum memastikan bahwa kandungan racun tersebut telah benar-benar keluar dari tubuh. Padahal sesungguhnya, ada racun yang lebih berbahaya dan patut kita waspadai dibandingkan dengan racun yang menyerang tubuh kita, yaitu racun yang menyerang hati kita.

Sebagaimana tubuh yang terkena racun, maka hati seorang manusia yang terkena racun pun akan menjadi rusak dan sakit, yang pada akhirnya jika tidak diobati maka akan menjauhkannya dari jalan ketaqwaan menuju Allah Swt. Menurut seorang ulama, Abdullah Shalih Al-Hadrami, ada empat racun hati yang paling banyak tersebar dan paling berbahaya bagi kehidupan hati seorang manusia.

Racun hati yang pertama adalah banyak bicara, yang diartikan dengan banyak membicarakan hal-hal yang tidak berfaedah dan sia-sia. Racun hati yang kedua adalah banyak memandang, yang dimaksud dengan banyak memandang yaitu melepaskan pandangan kepada sesuatu dengan sepenuh mata dan memandang kepada yang tidak halal untuk dipandang.

Lalu, racun hati yang ketiga adalah banyak makan dan minum. Ini dikarenakan nafsu perut termasuk perusak yang amat besar. Dari nafsu perut pula, muncul nafsu kemaluan dan kecenderungan berlebihan kepada harta duniawi. Yang akhirnya disusul dengan berbagai banyak bencana. Dan, racun hati yang terakhir adalah banyak bergaul dengan sembarang orang. Sering berkumpul dan bergaul dengan orang-orang yang berperangai buruk, lambat laun akan membuat kita terjangkit perilaku yang buruk pula.

Alhamdulillah, ternyata keempat racun hati tersebut dapat diobati dengan ibadah puasa yang ditunaikan sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Racun hati yang bersumber dari seringnya membicarakan hal-hal yang tidak berguna dapat ditangkal dengan berpuasa, karena hakikat puasa bukan hanya menahan makan minum semata, namun juga menahan mulut untuk tidak berucap sia-sia. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Puasa bukan hanya menahan makan dan minum. Puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan sia-sia dan kata-kata kotor” (HR. Ibnu Khuzaimah).

Pantas pula jika Rasulullah saw menyuruh kita lebih baik diam daripada berbicara yang tidak membawa manfaat, sebagaimana sabdanya, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (HR. Al- Bukhari dan Muslim). Memperbanyak dzikir, salawat, dan membaca Al-Qur’an pastinya jauh lebih berfaedah dibandingkan memerbincangkan hal yang tidak berguna.

Racun hati dikarenakan banyak memandang sesuatu yang haram dapat pula dihindari dengan berpuasa. Seseorang yang memahami hikmah mulia di balik ibadah puasa, pastinya tidak hanya berupaya menahan lapar dan dahaganya saja. Namun, ia pun berusaha menahan syahwatnya dengan senantiasa menundukkan dan menahan pandangannya kepada hal-hal yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dikarenakan Allah Swt melarang hal ini, sebagaimana firman-Nya dalam Surah An-Nur ayat 30, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.

Selanjutnya, racun hati disebabkan banyak makan dan minum tentunya secara otomatis dapat dikurangi dengan menjalankan ibadah puasa. Jika banyak makan akan merusak bahkan mematikan hati, maka puasa akan melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat emosi. Sehingga Allah Swt memeringatkan, “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS Al-A’raf: 31).

Dan yang terakhir, merasuknya racun hati yang diakibatkan karena banyak bergaul dengan sembarang orang juga akan mampu diatasi dengan berpuasa. Di saat berpuasa, jauh lebih baik jika waktu luang kita digunakan untuk berkumpul dalam suatu majelis ilmu guna mentadabburi ayat-ayat Alquran, menghafalkannya, dan berupaya mengamalkan nilai-nilai mulia yang terkandung di dalamnya.

Jika pun bergaul, carilah teman sepergaulan yang baik, sebagaimana Rasulullah saw mengibaratkan, “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Semoga ibadah puasa kita di bulan Ramadan ini dapat bernilai pahala di sisi Allah Swt, sekaligus menjadi penawar dan obat mujarab untuk menghilangkan racun yang ada di dalam hati kita…Aamiin Yaa Robbal A’alamiin. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...