Sarjana Pendidikan Membeludak, Honorer Sengsara, Mau Impor Guru?


Unifah berpendapat impor guru merendahkan martabat tenaga pengajar Indonesi. Anehnya, belum setahun menolak, Unifah kini mendukung gagasan Puan Maharani.

“Akan jadi apa negara ini kalau ketum organisasi guru plin-plan. Ketika usulan itu datang dari pemerintah, langsung disetujui dengan alasan untuk melatih guru Indonesia,” cetus Titi Purwaningsih.

Pengurus Pusat Forum Hononer K2 Persatuan Guru Republik Indonesia (FHK2-PGRI), Riyanto Agung Subekti juga protes keras terhadap rencana impor guru. Dia menilai wacana tersebut bikin rakyat semakin muak dan tidak percaya kepada pemerintah.Masih terngiang di telinga Itong dan rekan-rekannya beberapa waktu lalu, KSPI (Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia) menyuarakan penolakan terhadap keberadaan TKA (tenaga kerja asing) yang tidak memiliki keterampilan (buruh kasar).Penolakan ini didasarkan pada argumentasi, bahwa warga negara Indonesia lebih berhak mendapatkan pekerjaan di dalam negeri.Barulah ketika ada jenis pekerjaan yang membutuhkan keahlian tertentu, di mana buruh Indonesia tidak bisa memenuhi spesifikasi keahlian yang dibutuhkan itu, keberadaan TKA menjadi relevan.Itu pun harus memenuhi beberapa persyaratan. Salah satunya transfer pengetahuan sehingga kemudian buruh Indonesia memiliki keahlian yang dibutuhkan.Menurut Itong, sapaan akrab Riyanto, rencana mendatangkan guru asing dengan alasan mutu pendidikan rendah hanya karena melihat hasil ujian nasional (UN) yang belum sesuai dengan standar kelulusan, tidaklah adil.

“Rendahnya mutu pendidikan jangan ditimpakan kepada guru semata, lalu direncanakan mendatangkan guru dari luar negeri,” imbuh Itong

Dia menambahkan, jumlah guru di Indonesia yang ada di bawah Kemendikbud dan Kemenag sekitar 4 juta orang. Setengahnya berstatus PNS dan 1,4 juta sudah bersertifikat.

Komentar

Loading...