Dapur


Oleh: Hamdan JuhannisDAPUR itu jantung kehidupan. Makanan diolah di dapur. Ciri kehidupan di sebuah rumah bisa terlihat dari seringnya dapur itu mengepul. Dapur bukan hanya sebagai tempat memasak, tapi disitulah makanan juga diolah. Di dapurlah semua bumbu masakan disimpan.Dalam tradisi orang dulu, dapur dijadikan sebagai barometer kemandirian. Bila ada lelaki yang ingin menikah, pertanyaan reflektif yang harus dijawab sendiri oleh mereka adalah ‘sudah mampukah kamu mengelilingi dapur tujuh kali?’Sebuah pertanyaan metaforis yang bermakna bahwa apakah pria itu saat menikah sudah siap menyediakan segala yang dibutuhkan di dapur untuk membuatnya mengepul. Demikian pula dengan perempuan, saat mau dilamar pertanyaan pertama, apakah dia sering menginjak dapur.Itulah, dapur itu memiliki fungsi ‘penggodokan’, menggodok kemandirian bahwa apakah saat berumah tangga sudah mampu memungsikan dapur sendiri. Dapur juga menjadi tempat untuk menggodok kemampuan meracik bumbu untuk menghasilkan ‘chemistry’ rasa. Jadi dapur menjadi tempat untuk menghasilkan kebaruan rasa makanan.Orang yang terbiasa di dapur akan tahu dengan mudah unsur-unsur makanan yang dia cicipi. Orang yang terbiasa di dapur juga memiliki kecekatan untuk menyiapkan makanan saat menjamu. Artinya, fungsi sosial dapur itu adalah bagian dari jati diri rumah tangga.Namun, fungsi dapur cenderung bergeser. Dapur sekarang khususnya pada masyarakat kelas menengah menjadi ruang aksesoris untuk mempercantik rumah. Dapur tidak boleh kotor. Muncullah istilah ‘dapur kering’. Anak-anak sekarang mulai sangat jauh dari dapur. Mereka nyaris tidak pernah beraktivitas di dapur, dan tidak paham nama bahan-bahan di dapur. Intinya, anak-anak tidak terlatih untuk memasak. Mereka juga semakin jauh dari makanan produk dapur di rumah sendiri.

Komentar

Loading...