Menteri Amran Terus Suarakan Keberpihakan Pada Petani

Selasa, 14 Mei 2019 - 05:03 WIB

Niigata – Keberpihakan terhadap kepentingan petani menjadi isu utama yang dikemukakan Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat menghadiri forum G20 Agriculture Ministerial Meeting (AMM) yang berlangsung selama dua hari (11-12 Mei), di Niigata, Jepang. Salah satu isu khusus yang dikaitkan dengan keberpihakan terhadap kepentingan petani adalah kesetaraan akses pemanfaatan teknologi dan inovasi kepada petani kecil.

“Kesetaraan akses pemanfaatan teknologi dan inovasi kepada petani kecil, terutama Information and Communication Technology (ICT) memiliki peran krusial untuk mendukung pembangunan sektor pertanian,” tegas Amran.

Masih terkait inovasi dan teknologi, Amran juga menekankan pentingnya digitalisasi dan inovasi dalam rantai nilai pangan (FVC). Menurut Amran, teknologi digital dapat menjadi cara menarik minat generasi muda menekuni profesi sektor pertanian.

“Hal ini sejalan dengan program strategis Indonesia dalam mengembangkan kewirausahaan pemuda tani,” ungkapnya.

Isu lain yang disampaikan menteri kelahiran Sulawesi Selatan itu adalah tentang perlunya perbaikan Global Food Value Chains (FVCs). Perbaikan ini krusial guna meningkatkan efisensi dan nilai tambah mendorong kesejahteraan petani.

“Serta pentingnya kolaborasi antarnegara G20 mengatasi dampak perubahan iklim serta pencapaian SDGs dengan memperhatikan kesepakatan global pada rencana aksi United Nations Decade of Family Farming 2018-2028,” ucap Amran.

Untuk itu, Amran mengharapkan negara-negara G20 memperhatikan kesetaraan perdagangan komoditas dalam mencapai rantai nilai pangan (Food Value Chains/FVC).

Di sela-sela forum G20 AMM, Amran sempat mencuri perhatian ketika menyoroti berbagai kesepakatan yang muncul di forum tersebut namun tidak jelas kelanjutannya. Ke depannya setiap kesepakatan yang ada dapat disusun peta arah implementasinya sehinnga bisa jadi pedoman negara anggota G20.

Pendapat yang dikemukakan Amran Sulaiman tersebut mampu menyita perhatian dari para anggota G20. Bahkan Bank Dunia sempat menyebutkan salah satu isu yang telah lama dibahas, seperti food loss dan food waste, hingga sekarang tidak jelas bentuk aksinya.

Semua isu yang diutarakan Amran bahkan dijadikan acuan guna merumuskan deklarasi akhir forum pertemuan G20 AMM atau G20 Agricultural Ministers Declaration.

Kehadiran Amran Sulaiman pada forum G20 AMM turut didampingi oleh Pelaksana Tugas Kepala Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Prof Erizal Jamal, Tenaga Ahli Menteri Pertanian Baran Wirawan, Peneliti Utama PSEKP Mat Syukur, Kepala Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan Cinagara Wisnu Wasisa Putra serta jajaran staf Biro Kerja Sama Luar Negeri dan Kementerian Luar Negeri.

Pertemuan G20 AMM di Niigata, Jepang, merupakan kelanjutan dari Agriculture Deputies Meeting G20 pada Maret lalu di Tokyo. Forum AMM G20 diikuti oleh 16 Menteri Pertanian masing-masing negara anggota, 4 Menteri dan perwakilan negara undangan antara lain Senegal, Spanyol, Singapura, Thailand, Chili dan Belanda serta Direktur Jenderal dan perwakilan lembaga internasional seperti ERIA, OECD, FAO, WTO, IFAD, IFFRI, World Bank, PARM.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.