Utang Beras, Tinggal di Samping Kuburan

Rabu, 15 Mei 2019 - 08:32 WIB
RAIH NIKMAT. M Hatta mendapat rumah program Ramadan Rumah Impian di Perumahan Bone Cilallang Mas, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Bone, Selasa, 14 Mei. (NURHADI/FAJAR)

Impian itu terwujud. Tangisnya pecah. Sepuluh tahun tinggal di rumah di atas lahan milik orang lain, kini punya rumah sendiri. Berkah Ramadan.

Laporan: Bayu Firmansyah, Bone

Kalimantan pernah menjadi tempat M Hatta mengadu nasib. Kerjanya serabutan. Penghasilan yang tidak menentu membuat Hatta dan istri memutuskan kembali ke kampung halaman di Bone.
Saat itu dia masih tinggal di rumah mertua. Tak lama bersama, dia memutuskan untuk mandiri dan membangun pondok untuk keluarganya. Namun, lahan tempat pondoknya berdiri bukanlah miliknya. Hatta dan istrinya hanya menumpang.

Matanya terus berkaca-kaca saat menceritakan pengalaman hidupnya di hadapan panitia kegiatan sosial Ramadan Rumah Impian kerja sama DPD Real Estate Indonesia (REI) Sulsel dan Harian FAJAR, kemarin.
Pengalaman menjadi buruh bangunan menjadi modal Hatta menghidupi istri beserta dua anaknya. “Saya cuma buruh bangunan, jadi kadang ada kerja, kadang juga tidak ada,” tuturnya.

Hatta bercerita, kadang dalam sebulan, tidak mendapat pekerjaan. Tak ada panggilan kerja sama sekali. Praktis, tak ada penghasilan untuk membiayai keluarga.
Jika beruntung mendapat panggilan kerja, dirinya bisa mendapat upah Rp700 ribu sebulan. Akan tetapi, upah itu sebagian besar digunakan untuk membayar utang.

“Kalau tidak ada lagi bisa dimasak, kadang saya pergi utang beras. Setelah dapat rezeki baru bayar. Biasa beras yang diutang sudah habis, tetapi belum dibayar,” tutur Hatta menceritakan kisah hidupnya yang kadang dirasanya teramat getir.
Namun, kondisi itu tak membuatnya harus pasrah. Hatta terus berusaha agar tenaganya bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Setidaknya agar tetap bisa bertahan hidup dan memberi makan keluarganya.

“Saat bekerja sebagai buruh bangunan, saya selalu memimpikan bisa membangun rumah sendiri, memperbaiki rumah sendiri. Tapi, dipanggil jadi buruh saja, saya sudah sangat bersyukur,” kata pria 52 tahun itu.
Bersama istrinya Irnawati, setiap kali rebahan, mereka selalu berandai-andai membayangkan punya rumah sendiri. Tidak lagi takut tinggal di lahan yang sekelilingnya kuburan.

“Sudah tidak takut, karena sudah terbiasa, pas buka pintu rumah yang dilihat langsung kuburan,” ungkapnya.
Terpilih untuk menerima hadiah rumah gratis, sama sekali tidak pernah terlintas di pikirannya. Namun, saat panitia Ramadan Rumah Impian REI Sulsel-FAJAR, mengundangnya, terbersit sedikit harapan, mimpinya bersama keluarga memiliki rumah, dapat terwujud.

Selasa, 14 Mei, mimpi itu benar-benar terwujud. Dia akhirnya memiliki rumah di Perumahan Bone Cilallang Mas. Lokasinya di Kecamatan Tanete Riattang Timur, Bone.
Rumah itu donasi dari pengembang PT Mandiri Pratama Putra dan Bank Tabungan Negara (BTN). Program Ramadan Rumah Impian DPD REI Sulsel-FAJAR mewujudkan impiannya.

Saat menerima amplop dan membukanya, napasnya sempat terhenti sesaat. “Selamat, Anda terpilih mendapatkan rumah gratis dari REI,” begitu tulisan di balik amplop itu.
Membaca tulisan itu, sontak tangisnya pecah. Sang istri, Irnawati pun tak tahan menahan haru. Mereka langsung bersujud. Mengucap syukur kepada Allah Swt. Impian memiliki rumah akhirnya terwujud. (*/rif-zuk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.