Redam Gejolak Politik, Gubernur Sulsel dan 7 Kepala Daerah Bentuk Forum Bogor

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, BOGOR–Delapan pemimpin daerah dan dua tokoh nasional, membentuk Forum Bogor di Museum Kepresidenan Balai Kirti, Bogor, Rabu (15/5). Forum tersebut dibentuk untuk meredam konflik usai pemilu di masyarakat. Para peserta yang hadir sepakat untuk menyebarkan berita positif di tengah kemelut yang memecahkan masyarakat selama pemilu.

Forum tersebut diinsiasi Wali Kota Bogor, Bima Arya, dihadiri Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Gubernur NTB, Zulkifliemansyah, Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah, Wagub Jawa Timur, Emil Dardak, Bupati Banyuwangi, Azwar Anas dan Wali Kota Tangerang, Airin Rachmi Diany. Sementara dua tokoh non-pemimpin daerah yang hadir ialah Agus Harimurti Yudhoyono dan Yenny Wahid.

“Kami juga sudah mengundang Pak Anies Baswedan, tapi pas siang menjelang sore tadi (kemarin, Red) beliau bilang pihak Pemprov sedang ada syukuran. Jadi berhalangan hadir,” ucap Bima seusai pertemuan kemarin.

Acara tersebut berlangsung sedari pukul 16.00. Selama pertemuan, tidak ada satu pun awak media yang diperkenankan masuk. Acara berlangsung secara tertutup. Sebagai inisiator, Bima menjelaskan, apa saja yang mereka lakukan di dalam.

Selain berbuka puasa bersama dan salat berjemaah, para tokoh itu berdiskusi tentang apa yang terjadi di negara ini. Mengingat, kondisi masyarakat saat ini tengah dilanda perpecahan pasca pemilu. Diharapkan, dengan ditemukannya para tokoh dan pemimpin tersebut bisa menciptakan kondisi yang lebih kondusif di masyarakat. Ini mereka lakukan sekaligus untuk menjadi panutab masyarakat di luar sana. Bahwa mereka perlu berdamai antar satu sama lain.

Setelah berseteru terkait dukungan politik semata. “Kami cinta Indonesia, kami ingin Indonesia damai. Dengan diwarnai energi positif dan optimisme dalam membangun Indonesia,” tutur pria kelahiran Bogor tersebut.

Bima menceritakan awal mula pertemuan ini diinsiasi. Dia sudah lama kenal dengan tokoh-tokoh yang hadir kemarin di Bogor. Bahkan jauh sebelum mereka memimpin beberapa daerah di Indonesia. Pertemuan tersebut terjadi di tempat ngopi bareng, atau sekadar melalui aplikasi media sosial saja. Dalam perbincangan tersebut, mereka sering membicarakan tentang bagaimana membangun negeri ini ke depannya.

Keguyuban tersebut lah yang ingin dia aktifkan kembali. Agar dicontoh oleh masyarakat di area kepemimpinan mereka. Bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk memecah belah bangsa. “Saya saja kadang lupa, sahabat saya ini partainya dari mana kok,” selorohnya lantas tertawa.

Hal tersebut juga diamini Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo. Justru di tengah kondisi masyarakat yang berkecamuk ini, mereka harus bertemu. Untuk mengukuhkan kembali kebersamaan antarpemimpin yang ada di Indonesia.

Hal ini tidak lain untuk memastikan. Pada tanggal 22 Mei mendatang, masyarakat tetap akan bersatu sebagai bangsa apa pun yang terjadi. “Agar masyarakat terinspirasi, follower-follower kami di dunia maya juga terinspirasi. Bahwa ada anak bangsa yang ingin damai ke depannya,” kata Ganjar.

Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, juga memiliki pemikiran yang sama. Dia menjelaskan, rakyat merupakan cerminan dari pemimpin. Pemimpin, juga merupakan cerminan dari rakyat. Jika mereka mencontohkan hal yang baik, hal yang smaa juga akan ditiru oleh warga. Sehingga timbul kebersamaan, dan kedamaian antara satu sama lain. “Kami ingin mengisi ruang inspirasi sampai tanggal 22 Mei mendatang, bahkan untuk ke depannya juga,” beber pria Kelahiran Bandung tersebut.

Untuk itu, Ridwan mengimbau bagi pemimpin di luar sana. Baik yang datang di pertemuan kemarin, maupun yang tidak hadir. Untuk memberikan informasi positif kepada warga. Baik secara langsung, maupun melalui akun media sosial pribadi mereka. Diharapkan, berita bernada damai tersebut akan menetralisir berita-berita negatif yang tengah berkembang di masyarakat.

“Sampaikan tidak hanya di masyarakat di dunia nyata saja, tapi juga mereka yang ada di dunia maya. Para netizen-netizen dan follower-follower kami juga,” ungkap pria yang mulai menjabat sebagai Gubernur Jabar semenjak 2018 lalu tersebut.

Sebagai tokoh di luar pemimpin yang hadir. Agus Harimurti Yudhoyono, juga beranggapan demikian. Banyak kegelisahan dan kekhawatiran yang dia rasakan di masyarakat semenjak Pemilu 2019. Selama sekitar delapan bulan, masyarakat dibuat berseteru. Hanya karena memiliki pandangan yang berbeda tentang politik. Momentum 17 April yang seharusnya digunakan sebagai ajang untuk kembali mempererat silaturahmi, berujung nihil. “Pertanyaannya cuma satu, sampai kapan? Apakah akan berhenti? Apakah justru akan menjadi normal baru?” tukasnya.

PDIP Cium Aroma Permainan Suara di Ibu Kota

Keinginan untuk mengubah keadaan itulah yang membuatnya tergerak untuk hadir. Bersama dengan pemimpin dan tokoh politik lainnya, Agus ingin menyatukan hati dan pikiran. Dia ingin, pertemuan ini menginspirasi para generasi muda di luar sana. Mengingat saat ini, juga banyak dari mereka yang tertarik untuk bergelut di dunia politik. “Semoga kita teguh menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas hal lain-lainnya,” tegas pria yang lebih akrab disapa AHY tersebut. (jpnn)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

0 Komentar