Dicecar 51 Pertanyaan, Kivlan Zen: Merdeka 9 Mei Maksudnya Bebas Menyatakan Pendapat

Jumat, 17 Mei 2019 - 11:06 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA–Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zen telah memberikan kesaksiannya untuk tersangka kasus dugaan makar, Eggi Sudjana. Kivan mengaku dicecar 51 pertanyaan oleh penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Pertanyaannya yang diajukan tak jauh terkait video viral soal pernyataan ‘people power’ Eggi Sudjana. Dia lantas menjawab semua pertanyaan yang diajukan sesuai dengan yang diketahuinya.

“Pertanyaan sekitar apa yang dilaporkan soal (video) yang viral itu, persis,” ujar Kivlan di Mapolda Metro Jaya, Jumat (17/5).

Msski begitu, Kivlan mengatakan tak bisa menjelaskan banyak terkait video people power itu. Mengingat saat orasi tersebut dia tidak berada di lokasi.

“Soal saya sebagai saksi untuk Eggi Sudjana yang omongannya tanggal 17 April yang people power, saya bilang saya enggak hadir di situ, saya enggak bisa menerangkan dong,” jelasnya.

Selain itu, penyidik juga sempat menanyakan terkiat kata ‘merdeka’ yang diucapkannya saat pertemuan di Rumah Juang, Tebet, Jakarta Selatan pada 5 Mei 2019 lalu. Penyidik mempertanyakan maksud kalimat tersebut.

Kivlan kemudian menjelaskan bahwa pertemuan tersebut membahas soal kecurangan yang terjadi saat pemilu serentak 17 April. Usai berpidato dalam acara itu, dirinya memang sempat mengucapkan kata Merdeka.

Penggunaan kata ‘merdeka’ sendiri hanya untuk membakar semangat sebelum aksi massa di depan kantor Bawaslu pada 9 Mei lalu. Kata ‘merdeka’ juga biasa digunakan oleh Presiden Soekarno saat berpidato. Oleh sebab itu Kivlan menirunya.

“Merdeka tanggal 9 (Mei) maksudnya, tanggal 9 (Mei) itu kita merdeka menyatakan pendapat kan sesuai UU, saya jawab gitu aja,” sambungnya.

Lebih lanjut, purnawirawan TNI itu menyerahkan semua proses hukum kepada penyidik. Begitu pula proses pemilu 2019 ia serhakn kepada pihak terkait. Dia hanya berharap semua berjalan sesuai undang-undang yang berlaku.

“Saya hanya tinggal menungggu keputusan penyidik. Saya akan terima apa adanya. Saya juga ikuti semua proses, dan juga yang lainnya saya harap juga begitu. Proses pemilu sesuai UU berlaku, saya harap juga sama begitu,” pungkas Kivlan.

Diketahui, Eggi mulai ditahan sejak Selasa (14/5). Dia diputuskan masuk Rumah Tahanan Polda Metro Jaya setelah menjalani pemeriksaan oleh penyidik. Dia akan ditahan sampai 20 hari ke depan.

Eggi pertama kali diperiksa sejak Senin (13/5) pada pukul 16.30 WIB. Pitra Romadoni menyebut kliennya telah ditangkap oleh polisi dengan dasar surat penangkapan B/7608/V/RES.1.24/2019/Ditreskrimum.

Eggi kemudian ditetapkan sebagai tersangka dugaan makar oleh Polda Metro Jaya. Keputusan ini dikeluarkan setelah proses gelar perkara pada 7 Mei 2019. Adanya kecukupan alat bukti seperti enam keterangan saksi, empat keterangan ahli, beberapa dokumen, petunjuk, dan kesesuaian alat bukti menjadi dasar penyidik menaikan status hukumnya.

Eggi sendiri dilaporkan oleh caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), S. Dewi Ambarawati alias Dewi Tanjung ke Polda Metro Jaya atas tuduhan makar. Laporan itu dibuat atas beredarnya video Eggi menyerukan people power dalam sebuah orasi.

Keinginan Kuat Jokowi, Renovasi Masjid Istiqlal Telan Rp465,3 Miliar

Selain Dewi, Supriyanto yang mengaku sebagai relawan dari Jokowi-Ma’ruf Center (Pro Jomac) juga turut melaporkan Eggi ke Bareskrim Polri, pada Jumat 19 April 2019. Laporannya teregister dengan nomor LP/B/0391/IV/2019/BARESKRIM tertanggal 19 April 2019 dengan tuduhan penghasutan. Terkait status tersangkanya ini, Eggi pun telah mengajukan permohonan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. (jpnn)