Jenderal Iran Minta Milisi Siapkan Diri untuk Perang Melawan AS

Jumat, 17 Mei 2019 - 07:03 WIB
Jenderal Qassem Soleimani, tengah, menghadiri pertemuan dengan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan komandan Garda Revolusi di Teheran, Iran, 2016 silam. (AP)

FAJAR.CO.ID, TAHERAN—Jenderal Iran, Qassem Soleimani bertemu dengan milisi Irak yang terkait Iran di Baghdad dan mengatakan kepada mereka untuk mempersiapkan perang proksi. Menurut sebuah laporan Kamis waktu setempat, seruan itu disampaikan Qassem di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.

Sumber Intel mengatakan komentar Komandan Korps Pengawal Revolusi Islam itu selama pertemuan dengan kelompok-kelompok Irak telah menyebabkan Amerika Serikat menarik staf diplomatik dari negara itu.

Soleimani memanggil milisi untuk pertemuan tiga minggu lalu, surat kabar Guardian Inggris melaporkan pada hari Kamis. Tidak jelas kapan pertemuan itu benar-benar terjadi. “Itu bukan panggilan untuk mempersenjatai, tapi itu tidak jauh dari situ,” kata seorang sumber intelijen senior.

Pertemuan itu berperan dalam keputusan Departemen Luar Negeri AS pada hari Rabu untuk memerintahkan semua staf pemerintah yang tidak penting untuk meninggalkan Irak, karena Jerman dan Belanda sama-sama menunda program bantuan militer mereka di negara itu.

Ketegangan antara Washington dan Teheran terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir dengan perang kata-kata antara pemimpinan Amerika dan Iran. Ini dipicu tuduhan serangan sabotase yang menargetkan kapal-kapal tanker minyak di lepas pantai Uni Emirat Arab, sebuah serangan pesawat tak berawak pada pipa minyak Saudi, dan pengiriman kapal perang dan pembom AS ke wilayah tersebut.

Pekan lalu, para pejabat AS mengatakan mereka telah mendeteksi tanda-tanda persiapan Iran untuk kemungkinan serangan terhadap pasukan dan kepentingan AS di Timur Tengah. Akan tetapi Washington belum secara publik memberikan bukti apa pun untuk mendukung klaim meningkatnya ancaman Iran.

The New York Times melaporkan pada hari Kamis bahwa foto-foto yang menunjukkan rudal Iran dipasang di kapal-kapal kecil di Teluk Persia telah menyebabkan AS mengirim armada kapal perang dan pembom ke wilayah tersebut. Tetapi akar dari ketegangan Teluk Persia tampaknya berasal dari keputusan Presiden AS Donald Trump setahun yang lalu untuk menarik AS dari perjanjian nuklir Iran dengan kekuatan dunia, memulai kampanye sanksi maksimalis terhadap Teheran untuk melumpuhkan ekonomi negara itu.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei mengatakan pada hari Selasa bahwa “tidak akan ada perang” dengan Amerika Serikat, tetapi juga tidak akan ada negosiasi ulang kesepakatan nuklir. Dalam pidatonya kepada pejabat negara, Khamenei mengatakan pertikaian antara Republik Islam dan Amerika Serikat merupakan ujian dari ketetapan daripada pertemuan militer.

“Pertarungan ini bukan militer karena tidak akan ada perang. Baik kita maupun mereka [AS] tidak mencari perang. Mereka tahu itu tidak akan menarik minat mereka,” katanya, seperti dikutip di situs resmi Khamenei.ir.

Namun pada hari Rabu, kepala Korps Pengawal Revolusi Islam Iran memperingatkan Teheran berada di ambang konflik penuh dengan musuhnya. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan pada hari Selasa di Sochi, Rusia: “Kami pada dasarnya tidak mencari perang dengan Iran.”

Pada hari Senin, Trump menolak sebuah laporan yang mengatakan dia mempertimbangkan untuk mengirim 120.000 pasukan untuk melawan Iran, tetapi tidak mengesampingkan pengerahan tentara “jauh lebih banyak” di masa depan. Trump pada hari Kamis kemudian mengatakan bahwa ia berharap ketegangan yang meningkat dengan Iran tidak berubah menjadi perang.

“Semoga tidak,” kata Trump dalam menanggapi pertanyaan wartawan tentang kemungkinan konflik bersenjata dengan Teheran, menjelang pertemuannya di Gedung Putih dengan Presiden Swiss Ueli Maurer. Trump diatur untuk bertemu dengan Maurer dalam upaya untuk membuka saluran komunikasi dengan Iran, CNN melaporkan. (Times of Israel/amr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.