Jupel dan Pemandu Diberi Pelatihan Memelihara Potensi Wisata


FAJAR.CO.ID,MAROS–Guna meningkatkan kemampuan teknis juru pelihara (Jupel) dan pemandu wisata di kawasan Gua Prasejarah Leang Leang, tim pengabdian masyarakat Universitas Indonesia (UI) menggelar pelatihan, Jumat, 17 Mei hingga Sabtu, 18 Mei.Dalam kegiatan ini para juru pelihara di kawasan Prasejarah Leang Leang diberi pengetahuan mengenai bagaimana merawat, menjaga, dan memelihara potensi wisata ini.Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia, R Cecep Eka Permana mengatakan kegiatan ini sengaja digelar untuk peningkatan kualitas, terutama untuk juru pelihara dan pemandu.Dimana dalam kegiatan ini diikuti sekitar 45 peserta, yang terdiri atas 35 juru pelihara dan selebihnya masyarakat sekitar.Diakuinya selama ini, untuk di kawasan Prasejarah Leang Leang juru pelihara juga bertindak sebagai pemandu wisata. Sehingga dibutuhkan peningkatan kemampuan.”Untuk sementara ini, di Leang Leang, juru pelihara juga bertindak sebagai pemandu. Jadi belum ada yang bertugas sebagai pemandu wisata saja,” katanya.Padahal, lanjutnya, juru pelihara juga memiliki tugas lain seperti membersihkan dan menjaga kerapian situs cagar budaya.”Sementara pemandu wisata tugasnya memberikan informasi kepada pengunjung. Nah inilah yang kita lakukan dalam peningkatan kualitas terhadap juru pelihara. Selain membersihkan dan menjaga situs cagar budaya, juru pelihara juga harus mengetahui informasi mengenai Leang Leang dan bisa mengetahui bagaimana cara memberikan informasi  ke pengunjung,” jelasnyaOlehnya itu dia berharap agar melalui kegiatan ini bisa meningkatkan kualitas juru pelihara yang selama ini mengawasi, mengurus dan membersihkan situs Leang Leang agar lebih baik.Sehingga kelestarian dari Goa dan benda yang ada didalamnya akan lebih baik.Dia juga mengatakan dalam kegiatan ini peran masyarakat juga dibutuhkan. Bahkan masyarakat memiliki kesempatan mengembangkan diri dengan bertugas sebagai pemandu wiasata.”Karena berdasarkan data BPCB Sulsel, ada sekitar 200 Leang dan ada kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan menjadi pemandu,” katanya.Cecep juga mengaku pihaknya berencana membuat Kelompok Sadar Wisata (Pok Darwis) yang melibatkan masyarakat sekitar. Sehingga nantinya juru pelihara tak lagi merangkap tugas.”Tahun depan rencananya kita akan menyasar bagaimana kesiapan masyarakat dalam melayani pengunjung. Apalagi di Leang Leang belum ada pemandu, sehingga bebannya masih ada pada juru pelihara.Kedepannya kata dia, diharapkan secara pelan-pelan bisa dipisahkan antara juru pelihara dengan pemandu.”Diharapkan bukan dari BPCB Sulsel, tapi bisa dari pemerintah daerah yang menginisiasi. Tetapi diutamakan dari masyarakat,” sebutnya.Sementara itu salah satu pemateri, Staf Pengkaji Cagar Budaya Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan, Rustan Lebe mengatakan juru pelihara merupakan ujung tombak dalam menjalankan fungsi sebagaimana yang diatur dalam Permendikbud Nomor 31 Tahun 2016.Menurutnya juru pelihara, baik sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun tenaga honorer merupakan aparat negara yang ditugaskan melaksanakan tugas-tugas atau kebijakan pemerintah  dibidang cagar budaya.Dimana juru pelihara memiliki tanggung jawab dalam hal pengamanan dan pemeliharaan situs-situs gua prasejarah di Kawasan Karst Maros-Pangkep.“Secara umum ada tiga tugas utama yang diemban oleh setiap juru pelihara khususnya di Kawasan Karst Maros-Pangkep yaitu mengamankan situs-situs gua atau bukan gua beserta lingkungannya, memelihara dan merawat situs-situs gua atau bukan gua beserta lingkungannya, serta melayani masyarakat khususnya pengunjung,” pungkasnya.Kegiatan pengabdian masyarakat ini digelar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI) bekerjasama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulsel.(rin)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...