Perut


Oleh: Muahammad Khidri AlwiPUASA dimulai dari lakon untuk berimsak, yakni tidak makan dan tidak minum di siang hari Ramadan. Maka muara puasa dipusatkan pada perut, di mana secara kuantitas perut tidak diisi makanan dan minuman, walaupun makanan itu halal. Kita sama ketahui, dalam ilmu kedokteran, banyak penyakit, terutama penyakit degeneratif selalu dihubungkan dengan faktor makanan.Pola makan yang tinggi lemak, garam, dan kalori termasuk gula, memicu munculnya penyakit degeneratif yang bepotensi menjadi penyakit katastropik, yaitu penyakit berbiaya tinggi. Secara komplikasi dapat menjadi ancaman jiwa bagi penderitanya.Secara kualitas, perut berpotensi menimbulkan penyakit rohani (maridh qalb) apabila dibiarkan bebas untuk menurutkan nafsunya. Penyakit-penyakit rohani yang bersumber dari ketamakan perut akan mengakibatkan timbulnya penyakit hati seperti serakah, sombong, tamak, dan sebagainya. Imam Al-Ghazali mengingatkan kita akan hadis nabi Saw, “Perut itu adalah gudangnya penyakit, dan menjaganya adalah obat yang paling mujarab.”Salah satu cara menjaganya adalah menahan nafsu perut dengan banyak berpuasa. Ketika kita berpuasa kita tidak hanya menahan dari kuantitas makanan (untuk jasmani kita), tetapi juga nilai berkah makanan. Dalam bahasa simbolik, perut dilambangkan sebagai keserakahan ketika kita tidak bisa lagi memilih dan memilah apa yang masuk dalam “perut.” Simbol keserakahan perut dilambangkan sesuatu yang bisa dimasukkan apa saja, entah itu dari hasil mencuri, menipu, hasil sogokan, menjual jabatan, menjual suara dan semua yang potensi keserakahan.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar