Perut


Nabi saw bersabda: “Siapa yang menjaminkan kepadaku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua pahanya, aku menjamin surga baginya.” Menjamin keduanya berarti mengendalikannya dalam bimbingan ajaran agama. Rahang dan paha melambangkan nafsu perut dan nafsu seks.Keduanya tidak dapat dipisahkan, saling memengaruhi dan saling mendukung. Namun, pengaruh nafsu perut lebih berbahaya jika dia menjangkiti penyakitnya ke nafsu di atas perut, yaitu hati. Maka untuk mengekang supaya nafsu perut tidak liar, perlu pengendalian dan penguasaan nafsu perut. Lewat pengekangan puasa, “dua rahang”, maka “dua paha” dapat dikontrol.Kontrol dan pengekangan tidak hanya cukup dengan mengendalikan nafsu perut. Perlu dilengkapi dengan nilai sabar dan kesempurnaan kekuatan pondasi iman. Itulah sebabnya Imam Al-Ghazali menyebut, bahwa posisi ibadah puasa adalah seperempat bagian dari iman. Artinya barang siapa yang tidak puasa, maka imannya kurang seperempat.Hal ini didasari dari dua Hadis Nabi saw. Yang pertama berbunyi, “Puasa merupakan setengah dari kesabaran”. Dan hadis kedua berbunyi, ”Sabar adalah setengah dari iman”. Dengan demikian puasa menjadi simpul kesabaran dan keimanan. Jika dicermati, maka sesungguhnya ketiganya memiliki hubungan yang erat. Sabar adalah inti dari puasa. Kesabaran dalam menahan segala larangan dhahiriah yang dapat membatalkan puasa, dan larangan batiniyah yang mengurangi makna puasa. Dari kekuatan sabar kita mampu menahan diri dalam mengendalikan nafsu perut. Wallahu ‘alam. (*)

Komentar


KONTEN BERSPONSOR