Sempat Putus Asa, Kini Kulitnya Mulus

0 Komentar

Sungguh berat penderitaan Suhardi. Hampir enam tahun lamanya, ia terpenjara di dalam gubuk.

Laporan: Suardi, Gowa

Bukan disekap atau dipasung. Tetapi, ia diserang penyakit kulit. Kendati begitu, ia tetap bisa makan dan minum seperti kondisi orang sehat pada umumnya.
Hanya saja, penyakit kulit itu membuatnya tampak kesakitan. Padahal tidak.

Tetapi, andaikata ia tidak segera ditangani, bisa saja ia meninggal dengan penyakitnya itu. Beruntung, ia bisa menghubungi Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan lewat media sosial, sehingga bisa dirawat. Dia kemudian dibawa ke RSUD Syekh Yusuf, lantaran aduannya itu.
Sebelum ditangani dokter, Suardi bertahan hidup di dalam gubuknya. Rumah reyot yang hanya berdindingkan papan rapuh peninggalan nenek, Dg Nari (90). Sang nenek meninggal pada 2013 silam.

Suardi nyaris bunuh diri lantaran putus asa menghadapi penyakitnya. Beruntung pemuda 21 tahun itu masih punya sedikit iman. Tahu bahwa bunuh diri itu dosa. Ia merasa menjadi beban bagi kakak kandungnya, Risal. Malu dirawat hampir enam tahun lamanya. Tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tak bisa ke mana-mana.

Tangan dan kaki nyaris lumpuh. Tak bisa digerakkan sama sekali. Berpindah tempat beberapa meter saja harus beringsut. Apalagi, bila diminta bekerja mencari uang. Pasti sudah tak bisa. “Pedih rasanya,” kenang Suhardi. Namun, mau diapa lagi. Tak ada orang yang bisa merawatnya selain Risal. Tetangganya? Sudah jelas juga tak bisa. Mereka saja susah. Apalagi, jika dimintai pertolongan.

Makin getir, kala keputusasaan hidup Suhardi makin menggila. Masih gara-gara penyakit kulit itu. Kian hari kian gatal. Gatalnya, nyaris tak tertahan. “Ya. Pasrah saja. Pasrah, dan pasrah. Karena kalau digaruk malah semakin gatal. Gatalnya, di sekujur tubuh. Air mata biasa keluar tak tertahan,” kenangnya, pilu. Penderitaannya makin berlipat kala dalam gubuk yang ia sebut rumah itu, kedua orang tuanya sudah tak ada lagi. Ia hanya berdua dengan Risal.

“Di rumah yang tinggal hanya saya dan kakak (Risal). Ibu telah tiada. Ayah, tak tahu di mana. Ayah sudah lama meninggalkan kami. Bahkan sudah nikah lagi,” kenangnya lagi.
Rumah yang ditinggalinya keropos. Dindingnya sudah lubang sana sini. Tetapi setidaknya, ia dan kakaknya tidak menjadi penduduk nomaden.

“Sebenarnya, ibu sudah tiada sejak saya masih kelas dua SD dan setelah itu kakak (Risal) kelas 5 SD. Ayah? Pergi setelah kawin lagi. Kami hanya dirawat nenek,” ucapnya. Penyakit kulitnya muncul awalnya di bagian telinga. Saat itu usianya baru lima tahun. Memang sudah gatal saat pertama kali timbul. Tetapi, ia tak tahu jenis penyakitnya. Kala itu, ia acuh saja.

Berganti tahun, penyakit kulit itu mulai menyebar ke matanya. Tetapi hanya dipinggir saja. Tak sampai menutupi bola matanya. “Dari mata perlahan turun di leher. Sudah tamat SD saat itu. Sudah gatal. Sangat gatal. Tetapi saya masih bisa bekerja,” bebernya. Tamat SD, Suardi kerja serabutan. Tak melanjutkan sekolah karena tak ada biaya. Penyakit kulitnya kian menjalar. Perlahan, menyerang kedua tangannya.

Namun, lagi-lagi ia tak tahu harus bagaimana. Ia berusaha saja mencoba bertahan dari gatal itu. Ia juga takut ke dokter atau puskesmas. “Kartu keluarga saja kami tak ada. Apalagi BPJS,” katanya. Suardi tertolong setelah bupati Gowa menerima pesannya via medsos. Dia lalu dijemput di rumahnya oleh tim medis. Ditangani di RS. Kini keadannya sudah membaik.

Di RSUD Syekh Yusuf, dr Muji Iswanty, SpKK, yang menanganinya. “Bu Dokter baik. Lama saya dirawatnya. Andai tidak ada dia, mungkin saya sudah tak bisa berjalan lagi. Berdiri lagi,” sanjungnya. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...