Ulama, Politisi, dan People Power


Oleh: M. Qasim MatharUlama, dari bahasa Arab, artinya para ilmuwan. Bentuk mufrad (singuler)-nya ialah alim, artinya seorang ilmuwan. Setelah diserap ke dalam bahasa Indonesia, kata “ulama” dipakai, baik untuk menyatakan satu orang maupun banyak ulama. Bahkan biasa juga ada yang menulis, “para ulama” atau “ulama-ulama” meskipun kata “ulama” sudah menunjukkan banyak (lebih dari satu orang). Biasalah, nasib sebuah kata yang terserap ke bahasa yang lain, muatan maknanya bisa persis sama dengan bahasa asalnya; bisa juga lebih menyempit atau meluas dari bahasa asalnya.Jika merujuk kepada Alquran, ulama yang dimaksud adalah mereka yang senantiasa mengamati fenomena dan kejadian alam semesta, serta mengamati fenomena kehidupan manusia dan makhluk bernyawa lainnya. Dengan keilmuannya itu, mereka tergolong manusia yang takut kepada Allah. Dengan demikian, ulama yang dimaksud oleh Alquran ialah mereka yang berpengetahuan yang amat luas dan dengan pengetahuannya itu menyadari kebesaran dan kekuasaan Allah, yang tampak pada sikap takutnya kepada Allah.Siapa pun yang memiliki pengetahuan, kesadaran, dan sikap takut yang demikian, itulah ulama, apapun bidang keilmuannya. Itulah ulama yang digambarkan Alquran dalam surat Fathir/35 ayat 27 dan 28. Sebaliknya, keulamaan seseorang menjadi luntur jika pada dirinya tidak tercermin makna ulama sebagai yang digambarkan oleh ayat Alquran tersebut.Adapun politisi atau politikus adalah orang yang melakukan kegiatan yang berkaitan dengan peran, fungsi dan posisi di dalam kekuasaan, pemerintahan, dan urusan publik. Orang yang demikian disebut juga sebagai orang yang terlibat langsung dalam kegiatan politik praktis. Seperti bidang lainnya, politisi yang baik memiliki ilmu politik dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengannya yang mumpuni dan melakukan kegiatan politik praktis dengan tetap berpijak pada ilmunya itu.

Komentar

Loading...