Kampanye Negatif Untungkan Petahana Australia

Senin, 20 Mei 2019 - 10:36 WIB

FAJAR.CO.ID, SYDNEY–Hasil pemilu Australia memang belum final. Namun, Partai Buruh sudah mengakui kekalahannya. Sekarang koalisi Liberal-Nasional tinggal menunggu apakah mereka menguasai mayoritas kursi di parlemen atau tidak.

Kemarin, Mingggu (19/5) Komisi Pemilihan Umum Australia menyatakan, koalisi yang dipimpin Perdana Menteri (PM), Scott Morrison itu sudah mengamankan 75 kursi. Tinggal satu kursi lagi untuk membentuk pemerintahan. Jika kurang, mereka harus menggandeng satu anggota parlemen independen.

“Saya selalu percaya dengan keajaiban,” ujar Morrison dalam pidato kemenangannya Sabtu malam (18/5).

Kemarin (19/5) dia ikut misa di Gereja Pentecostal Horizon dan berterima kasih kepada jemaat yang hadir atas dukungan mereka. Morrison menyatakan, dirinya sudah tidak sabar untuk kembali bekerja hari ini dan membentuk pemerintahan yang baru.

Kemenangan koalisi Liberal-Nasional memang ibarat suatu keajaiban. Sebab, selama ini hampir seluruh jajak pendapat memenangkan Partai Buruh. Morrison dianggap sosok yang paling penting dalam kemenangan tersebut. Dia bisa membalik suara di detik-detik terakhir. Partai Buruh sekali lagi harus legawa menjadi oposisi. Pemimpin Partai Buruh, Bill Shorten mengambil tanggung jawab dengan berjanji tak ikut pemilihan ketua Partai Buruh berikutnya.

Para pengamat menilai bahwa salah satu penyebab kekalahan Partai Buruh ialah penduduk masih takut akan perubahan besar. Agenda reformasi kebijakan yang diusung partai buruh adalah hal baru yang membuat publik waswas. Termasuk pemotongan pajak untuk kalangan menengah ke bawah, tapi menaikkannya untuk golongan kaya. Buruh juga berencana mengubah bentuk pemerintahan Australia menjadi republik.

Pengamat senior di Australian National University, Mark Kenny mengungkapkan bahwa saat ini sangat sulit melakukan ataupun merencanakan perubahan yang bisa mengilhami para pemilih. Pada saat bersamaan, juga harus mampu mempertahankannya di tengah-tengah kampanye negatif lawan yang menakut-nakuti pemilih. Partai Buruh terbukti tak mampu melakukannya. Morrison dengan mudah bisa membalik keadaan.

“Dia (Morrison) berjuang dalam kampanye negatif yang benar-benar hebat untuk melawan Shorten dan Partai Buruh,” ujar pengamat di La Trobe University Tony Walker.

Cegah Pergerakan Massa ke Jakarta, Penumpang KA Digeledah

Beda dengan Partai Buruh, dalam setiap kampanyenya, Morrison justru tidak menawarkan hal baru sama sekali. Dia hanya menjanjikan satu hal. Yaitu, kestabilan politik di negaranya. Morrison menyatakan bahwa kebijakan-kebijakan yang diambil Partai Buruh bakal membuat situasi tak menentu. Ketakutan akan ketidakpastian itulah yang membuat suara partainya terdongkrak. (jpnn)