Dinamika Demokrasi Pasca-Pilpres


Oleh: Andi  Haris (Dosen Fisip Unhas)Pemilihan umum serentak termasuk Pileg dan Pilpres 2019 telah selesai. Kini warga pemilih menanti hasil perhitungan suara secara resmi di umumkan KPU yang rencananya pada 22 Mei 2019.Memang begitu banyak fenomena yang muncul pasca dihelatnya pemilu 2019. umpamanya saja, mulai dari adanya caleg yang gagal mengalami stres, ratusan petugas KPPS yang meninggal dan ribuan lainnya sakit akibat kelelahan dan penyakit sampai pada munculnya kontroversi terhadap hasil quick count lembaga survei.Walaupun di sana-sini telah muncul spekulasi yang memprediksi bakal dilakukannya rekonsiliasi di antara para Capres dan koalisi partai politik pendukungnya, namun ada juga yang memperkirakan jika bisa saja hasil pilpres 2019 berakhir disengketa pilpres kalau ada saja pihak yang merasa kurang puas terhadap hasil pengumuman yang dirilis KPU.Sebenarnya, masalah perbedaan pendapat merupakan hal yang biasa dalam sebuah negara demokrasi. Yang penting, perbedaan ini tidak menimbulkan disintegrasi politik sehingga keutuhan NKRI tetap terjaga dengan baik. Itulah sebabnya, mengapa prinsip jujur adil itu sangat penting dalam sebuah proses pemilihan pejabat publik. Tentu saja, prinsip ini dimaksudkan untuk menjamin terimpelemtasinya proses demokratisasi politik dalam arti substansial dan tidak hanya bersifat prosedural semata.Sebaliknya, proses politik yang tidak berlangsung secara demokratis justru menjadi pemicu munculnya keresahan sosial, protes dan unjuk rasa sehingga hal ini berdampak pada terjadinya konflik di antara elite politik dan kekerasan politik. Fenomena seperti ini telah banyak ditemui diberbagai negara dan bahkan ada di antara negara tersebut mengalami kudeta sebagai konsekuensi logis dari munculnya ketidakpuasan di kalangan warga negara terhadap perilaku politik elite penguasa.

Komentar

Loading...