Selamat Tinggal Gubuk Sempit


Sitti nyaris tak sadarkan diri, sore itu. Sementara sujud syukur, tiba-tiba terkapar lemas. Dia jatuh ke lantai.Laporan: Muhlis Majid, BantaengTangis, suami, anak, dan cucu Sitti Daeng Kebo, pecah. Dengan isak tangis, mereka memeluk Sitti. Mereka terharu setelah membaca surat dalam amplop. Selembar kertas itu menyatakan keluarga Sampara Daeng Mayong dan Sitti Daeng Kebo menjadi penerima bantuan dari program Ramadan Rumah Impian 2019, Senin, 20 Mei.Bantuan berupa satu unit rumah program kerja sama Realestat Indonesia (REI) Sulsel dan Harian FAJAR itu berlokasi di perumahan Graha Natura Zarindah, Kelurahan Nipa-nipa, Kecamatan Pakjukukang, Kabupaten Bantaeng.Setelah impian memiliki rumah sendiri terwujud, Sampara dan Sitti beserta keluarganya tak lagi tinggal di gubuk. Selama ini, gubuk yang terletak tak jauh dari perumahan Graha Natura Zarindah, menjadi “istana” tempat mereka bernaung dari panas dan hujan.Ukuran gubuknya sangat mungil. Tak lebih dari 4×4 meter. Berdinding kayu dan seng bekas. Tanpa toilet dan kamar mandi. Di dalam gubuk itulah, Sampara dan Sitti bersama dua anak dan satu cucunya beristirahat.Pasangan suami istri itu betul-betul kaget mendapatkan satu unit rumah. Apalagi lokasinya di dalam perumahan yang selama ini hanya bisa dipandangnya. Keduanya mengaku tak pernah bermimpi, apalagi diberitahu akan mendapatkan rumah.Bagaimana tidak, Sampara hanya seorang kuli. Penghasilan yang bisa diperoleh dalam sebulan, paling tinggi Rp700 ribu. Istrinya, Sitti, turut membantunya menopang keuangan keluarga. Dia menjual kopi. Para buruh bangunan yang menjadi pelanggannya. Terkadang, dia menjadi tukang cuci jika ada yang membutuhkan jasanya. Terutama jika tak ada panggilan pekerjaan bangunan. Mereka kerja apa saja, asal asap dapur tetap mengepul.

Komentar

Loading...