Dilema Pemudik di Tengah Mahalnya Tiket Pesawat


Oleh: Riny Mustikawati (Fungsional Statistisi BPS Provinsi Sulawesi Selatan)Hari raya makin dekat. Sudah menjadi tradisi bagi para perantau untuk kembali ke kampung halaman untuk menjalin silaturahmi dengan keluarga. Namun, dilema mungkin dirasakan oleh calon pemudik dengan mahalnya tiket pesawat.Sejak awal tahun, tarif pesawat memang meroket. Tiket pesawat rute Makassar– Jakarta yang tahun lalu di mulai dengan harga 800 ribuan, sekarang melonjak tinggi. Hal ini membuat calon pemudik berpikir ulang untuk pulang kampung menggunakan pesawat. Ada yang mencoba mengganti moda transportasi. Bahkan sebagian mengurungkan niatnya untuk mudik.Kenaikan harga tiket pesawat telah berdampak pada penurunan jumlah penumpang penerbangan domestik. BPS mencatat jumlah penumpang pesawat di Bandara Sultan Hasanuddin sepanjang triwulan I 2019 turun 18,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).Indikator makro lainnya tang terkena dampak adalah inflasi. Pada bulan April 2019, secara umum inflasi mencapai 0,44 persen. Komponen trasportasi sendiri mengalami inflasi sebesar 0,41 persen. Tarif angkutan udara memberikan andil inflasi sebesar 0,03 persen.Selama ini masyarakat memang sudah terbiasa dengan harga tiket pesawat yang murah. Tanpa disadari, murahnya tiket pesawat disebabkan adanya “perang tarif” antar maskapai penerbangan untuk menggaet konsumen. Maskapai berlomba-lomba memberikan tiket murah.Perang tarif makin terasa dengan adanya duopoli dalam industri penerbangan Indonesia. Kondisi pasar penerbangan saat ini hanya dikuasai oleh dua grup perusahaan besar yaitu Grup Garuda Indonesia dan Grup Lion Air. Hal ini dapat menimbulkan persaingan tidak sehat dalam pasar.

Komentar

Loading...