Menyoal Angket


Oleh: HasrullahBINGKAI atau frame media mainstream kembali mengangkat isu strategis dan cenderung kritis berupa hak angket terhadap Gubernur-Wakil Gubernur Sulsel. Hak Angket ini kali pertama dalam sejarah DPRD Sulawesi Selatan. Itu berarti merupakan sebuah peristiwa langka.Terlebih lagi berita yang dikemas oleh Harian FAJAR, edisi 14 Mei 2019 telah menjadikan tulisan tajuk. Filosofi tajuk adalah opini dari sebuah media. Ketika media memilih satu topik yang diangkat sebagai opininya, itu bermakna bahwa masalah tersebut menjadi trending topic dan perlu mendapat perhatian publik, lebih khusus yang mengambil kebijakan.Informasi  hak angket DPRD Sulsel terhadap Gubernur Sulsel-Wakil Gubernur juga memiliki nilai berita. Salah satu indikator news value (nilai berita) adalah kelangkaan, keanehan, dan menarik perhatian. Nilai berita ini jelas sangat luar biasa getaran (magnitude)-nya dan lebih urgen lagi menyoal analisis aktor yang mempunyai nilai berita.Ditambah lagi keterlibatan pembuat berita (baca DPRD Sulsel) sebagai bagian balance of power, sehingga wajar saja agenda khalayak dengan agenda media bersatu. Inilah yang disebut dalam teori komunikasi adalah agenda setting.Bergulirnya berita dalam prinsip agenda setting menyebabkan pelaku aktor berita itu menjadikan tokoh tersebut “tersandera” dan “teraniaya” (baca: character assasination). Maka selayaknya, aktor tersebut tidak hanya memberikan klarifikasi ke publik atau forum DPRD Sulsel, tetapi perlu membawa opini publik dengan mengurai akar pertanyaan yang sudah terbentuk di kepala khalayak.

Komentar

Loading...