Tanpa Konsultan Politik, Mitra Fakhruddin MB Tumbangkan Petahana

Rabu, 22 Mei 2019 - 13:15 WIB

FAJAR.CO.ID, ENREKANG — Mitra Fakhruddin MB secara mengejutkan melenggang ke Senayan. Putra sulung Bupati Enrekang, Muslimin Bando, ini berhasil menumbangkan petahana di internal partainya.

Melalui Partai Amanat Nasional (PAN), putra Enrekang kelahiran Kalosi, 20 September 1986 yang bertarung di Dapil 3 Sulsel, ini meraih 44.401 suara. Pencapaian besar meski awalnya banyak suara sumbang meragukan dirinya.

Mitra mengaku, memang ada saja yang mencibir karena dia disebut hanya mendompleng nama besar orang tuanya. Namun, kata dia, nama besar bukan jaminan. Terbukti, banyak keluarga kerabat yang gagal terpilih.

“Jadi ini memang karena modal sosial yang sudah lama saya bangun. Apalagi jelang pemilihan, 9 kabupaten di dapil III Sulsel saya kelilingi tanpa kenal lelah. Bahkan kadang tidur di mobil, ganti baju di mobil dan sebagainya,” ungkap suami Fauziah ini.

Alumnus Sosial Ekonomi Pertanian Unhas ini mengaku tertarik masuk ke politik untuk memperjuangkan daerah kelahirannya. Selama ini, Enrekang dikenal sebagai sentra utama pertanian, namun masih tertinggal dari sisi infrastruktur pertanian dan kapasitas petani.

“Ini yang akan diperjuangkan. Infrastruktur, pertanian, dan pendidikan. Fokusnya ke arah sana. Semoga ditempatkan di komisi yang terkait nanti. Apalagi sejak kecil memang lekat dengan kehidupan petani,” tuturnya.

Soal kemampuan berorganisasi, Mitra mengaku sejak dari bangku pendidikan hingga sekarang sudah banyak berkecimpung. Di kampus mulai dari ketua himpunan jurusan hingga senat kampus pernah dijalani.

“Di level provinsi, pernah pengurus Apindo, Kadin. Saat ini, saya Bendahara KNPI Sulsel, wakil ketua Pemuda Muhammadiyah Sulsel. Di Enrekang, saya Ketua BPC Hipmi Enrekang, Ketua KONI dan sebagainya,” bebernya.

Pengalaman di berbagai organisasi ini disebutnya akan jadi bekal saat duduk di parlemen. Sehingga bisa menyuarakan kepentingan konstituen di dapil yang telah memilihnya. “Bukan hanya datang duduk, diam, dan terima gaji,” tegasnya.

Mitra mengaku melenggang ke Senayan tanpa didukung tim gemuk. Bahkan pola kampanyenya paling sederhana. Tanpa menggunakan konsultan politik.

“Kita akui pileg tak bisa ditepis dari hiruk pikuk politik uang. Jujur tak ada politik uang. Saya adalah pemuda yang sangat antipolitik uang. Ini harus dibasmi sampai ke akar-akarnya,” tandasnya.

Karena itu, Mitra mengaku berterima kasih kepada semua kolega, relawan, dan warga yang telah memberikan kepercayaan ini kepadanya untuk terus berjuang di pusat. “Ini berat, namun saya pasti bisa berjuang di Senayan,” ujarnya. (fik)