Dia Menangis Tiap Kali Baca Fatihah

0 Komentar

Alquran membuat hati Tata terketuk. Acap kali membaca fatihah ia tersentuh dan kadang menangis. Ia dahulu merupakan anak muda yang tak tahu arah. Lupa akan agama dan kewajibannya. Padahal, Tata hidup dalam lingkungan keluarga yang kental dengan nilai agama.

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR–Ia selalu mengejar kepuasaan dunia. Apa yang didapatkannya tak pernah ia rasa cukup. Bahkan, ia pun juga pernah menekuni bekerja sebagai penagih utang. Gaji yang didapatkannya pun banyak.

Namun, di balik itu ada orang yang harus ia sakiti karena proses penagihannya terkadang harus menggunakan kekerasan. Lalu perlahan, ia mulai merasa jenuh.

Hidupnya tidak tenang. Tata kemudian mencoba untuk melaksanaan salat, dari salat ia merasa nyaman. Bahkan, tiap kali membaca fatihah, air matanya menetes.

Tata dikenal sebagai sosok yang sulit mengontrol emosi. Namun, setelah berhijrah, pengalaman dan kajian yang didapatkannya membuatnya belajar untuk menjadi lebih sabar. Ia sadar bahwa apa yang dikerjakannya tak akan membantunya di akhirat kelak. Meski begitu, dalam perjalanan hijrahnya tak mudah. Tata mengalami kesulitan ekonomi.

Tata mencoba bekerja dengan menjadi pemulung. Kemudian menjadi kuli bangunan hingga ia menetap bekerja sebagai penyapu jalan. Menyapu dari subuh hari hingga menuju matahari terbit. Ia tahu gaji dari bekerja sebagai penyapu jalan tidak cukup, tetapi ia belajar bersyukur.

Tata kini bangga mampu memberikan hasil jerih payahnya kepada orang tuanya dari hasil yang halal.Tata selalu yakin tiap orang sudah diberikan rezeki masing-masing dari Allah Awt. Apa yang hilang, maka itu bukanlah menjadi rezekinya.

Usai berhijrah. Tata kini fokus untuk bergabung di Project Dakwah. Organisasi ini bergerak untuk menyebarkan dakwah kepada masyarakat.

Menyebarkan Dakwah

Tata turut ambil andil dalam proyek ini. Menjadi tim inti membantu memperluas dan mensukseskan kegiatan dakwah para ustaz. Tata tahu pekerjaannya ini tak mendapatkan upah apapun. Hanya bekerja secara sukarela. Namun, baginya hal ini jauh lebih mulia karena menyebarkan ajaran Islam agar orang-orang berhijrah.

Dahulu, Tata sempat mulai ragu, terlebih orang tua selalu menanyakan mengenai keseriusannya untuk menikah. Lalu ia kembali dikuatkan oleh teman-temannya. Menurutnya, rezeki dan jodoh sudah seharusnya dipasrahkan kepada Allah Swt.

Inilah yang juga menjadi alasan Tata memilih pekerjaan sampingan sebagai penyapu jalan. Ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu untuk menyampaikan dakwah.

“Kerja-kerja seperti ini adalah kerja dari hati. Jika tidak dari hati, maka hijrah itu pasti akan terasa sulit. Saya selalu mengingat kata-kata ketua saya bahwa kita ini menolong agama Allah. Kalau kita menolong agama Allah maka yakinlah Allah pasti akan menolong kita. Kata-kata itu yang selalu terngiang di pikiran saya. Alhamdulillah sampai sekarang saya masih bersama teman-teman Project Dakwah,” ujarnya. (ind/dni)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...