Kemenkominfo: Hoaks dan Kekerasan Jadi Senjata Pelaku Teror

Kamis, 23 Mei 2019 - 08:27 WIB
Medsos/FAJAR

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), mengimbau masyarakat tidak termakan unggahan kabar bohong atau hoaks terkait aksi 22 Mei. Pasalnya, konten negatif baik tulisan, foto, dan video, dapat menjadi “oksigen” bagi pelaku kejahatan itu sendiri.

“Kemenkominfo mengimbau warganet segera menghapus dan tidak menyebarluaskan atau memviralkan konten baik dalam bentuk foto, gambar, atau video korban aksi kekerasan di media apa pun,” ujar Plt Kepala Biro Humas Kemenkominfo, Ferdinandus Setu.

Penyebaran konten negatif semisal foto maupun video kerap dijadikan “senjata” bagi para pelaku teror yang ingin membuat ketakutan di tengah masyarakat. “Kemenkominfo mengimbau semua pihak menyebarkan informasi yang berisi kedamaian,” terang Ferdinandus Setu.

Sebagai informasi, konten video yang mengandung aksi kekerasan, hasutan yang provokatif, serta ujaran kebencian berdasarkan suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA), merupakan konten yang melanggar ketentuan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Polisi Jerat 257 Tersangka Perusuh dengan Pasal-pasal Ini

Terkait hal tersebut, pihak Kemenkominfo mengaku terus melakukan pemantauan dan pencarian situs, konten, dan akun menggunakan mesin AIS dengan dukungan 100 anggota verifikator untuk menyaring konten-konten negatif tersebut. Selain itu, Kemenkominfo juga mengaku bekerja sama dengan Polri untuk menelusuri dan mengidentifikasi akun-akun yang menyebarkan konten negatif berupa aksi kekerasan dan hasutan yang bersifat provokatif.

Kemenkominfo juga mendorong masyarakat untuk melaporkan melalui aduankonten.id atau akun twitter @aduankonten jika menemukenali keberadaan konten dalam situs atau media sosial mengenai aksi kekerasan atau kerusuhan di Jakarta. (jp)