MUI Dorong Tindak Tegas Provokator

Kamis, 23 Mei 2019 - 09:26 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA–Aksi unjuk rasa yang berujung ricuh selama dua hari di depan kantor Bawaslu dan dua titik lainnya, terus menyita perhatian. Para provokator dari aksi itu juga telah diamankan petugas kepolisian.

Menyikapi hal itu, ‎Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Asrorun Niam Sholeh, mengatakan masyarakat perlu mengingatkan kewaspadaan terhadap upaya-upaya provokasi selama bulan Ramadan.

Karena, ulah provokator dapat memicu tindak kekerasan dan perilaku anarkistis serta mencederai kesucian bulan Ramadan.

“Bulan Ramadan adalah bulan suci. Setiap muslim wajib memelihara kesucian Ramadhan,” ujar Niam, Kamis (23/5).

Niam melanjutkan, Komisi Fatwa MUI meminta semua pihak mewaspadai adanya provokasi yang merusak kerukunan dan persaudaraan sesama umat Islam. Termasuk kerukunan sesama anak bangsa dan sesama anak manusia.

Masyarakat yang menyampaikan aspirasi harus dalam koridor hukum dilakukan secara santun dan mewaspadai adanya infiltrasi serta provokasi yang merusak. “Sehingga aparat perlu tegas menindak provokator,” tegasnya.

Jika ada tindakan anarkis yang dilakukan mencederai kesucian Ramadan hukumnya adalah haram. Atas dasar itu, kata dia, Komisi Fatwa MUI mengimbau masyarakat menjaga kondusivitas dan kedamaian.

Pascabentrok, Begini Kondisi Petamburan hingga Tanah Abang

Komisi Fatwa MUI, lanjut dia juga mengimbau aparat penegak hukum untuk melakukan langkah persuasif dalam menghadapi masyarakat yang menyampaikan aspirasi. Selain itu aparat juga tidak memberikan toleransi terhadap pelaku kekerasan dan anarki.

“Perlu langkah preventif agar kekerasan tidak meluas eskalasinya. Aparat dan umat Islam perlu mencegah potensi kekerasan sekecil apapun untuk menjamin kemaslahatan bangsa,” ungkapnya. (jp)