Premanisme dan Ketidakwarasan Politik


Oleh: Saharuddin DamingKetika KPU mengumumkan hasil rekapitulasi pemilu, maka seharusnya Paslon 02 sebagai sebagai negarawan dan patriot sejati menerima realitas politik tersebut dengan legawa dan jiwa besar, seraya mengucapkan selamat pada rivalnya sebagai jawara. Hal tersebut dilakukan Hillary Clinton yang mengucapkan selamat kepada Donald Trump sebagai pemenang dalam Pemilu di AS 2016 lalu berdasarkan Ouick Count (QC)Tak hanya itu, Hillary juga meminta pendukungnya yang sangat emosional agar menerima hasil Pemilu dan memberi kesempatan kepada Trump untuk memimpin Negara. Ia tak sedikitpun mengeksploitasi sentimen publik yang menolak kemenangan Trump dengan deklarasi kemenangan fatamorgana seperti yang dilakukan 02.Kontrasnya karena meski QC yang dibenarkan RC hingga KPU menetapkan Paslon 01 sebagai pemenang dalam pilpres 2019, sampai saat ini Paslon 02 maupun elemen pendukung dan simpatisannya bukan saja tak sudi mengucapkan selamat atas kemenangan rivalnya. Malah memilih aksi premanisme politik dengan membegal semua institusi pemilu yang tidak mengakomodasi keinginannya.Akibatnya pesta demokrasi kita yang harusnya diselenggarakan dengan suasana kegembiraan dan persaudaraan sebagai bangsa yang menjunjung tinggi demokrasi, malah dicemari dengan penyebaran agitasi, ketakutan, lontaran fitnah, kebencian, permusuhan dan berita bohong yang sengaja dibuat sedemikian rupa dan disebar melalui media sosial.Ironisnya karena pihak yang kalah terus berupaya menghalalkan segala cara mendelegitimasi hasil Pemilu maupun lembaga penyelenggaranya dengan menciptakan tuduhan palsu demi menolak kekalahan. Mereka tega mengkhianati pengorbanan para penyelenggara pemilu yang bekerja mati-matian untuk mewujudkan pemilu jurdil, namun prestasi tersebut terus dihujat tanpa sedikitpun penghargaan oleh kubu 02. Ibarat muka buruk, cermin dibelah. Karena tak pandai menari lantai pun disalahkan tidak datar. Mereka mengabaikan The Gentlement Agreement : “Siap menang, siap kalah” karena yang mereka yakini hanyalah : “Harus menang dan tidak boleh kalah”.Tuduhan kecuranganpun digunakan sebagai senjata pamungkas. Seolah-olah kecurangan itu hanya dilakukan oleh rivalnya dan penyelenggara pemilu, padahal di beberapa tempat sejumlah kader mereka, juga terlibat rangkaian kecurangan. Jadi sangat tidak fair jika hanya kubu 01 yang selalu dituding curang. Seolah-olah kubu 02 bersih dari kecurangan, padahal pada basis kantong kubu 02 juga terjadi kecurangan terstruktur, sistematik, dan massif oleh kaki-tangan 02 demi memenangkan jagoannya. Semua kecurangan 02 bagaimanapun itu, selalu mereka tutupi dengan membesar-besarkan bahkan sengaja mengada-adakan kecurangan rivalnya.Dalam sidang 21 Mei 2019 putusan No: 01/LP/PP/ADM/TSM/RI/00.00/V/2019, Bawaslu menolak laporan 02, karena alat bukti yang diajukan hanya terdiri dari print out berita burung dari online. Jadi tuduhan 02 tentang kecurangan terstruktur, sistematis, dan massif kepada rivalnya maupun penyelenggara pemilu, tidak terbukti karena yang terjadi adalah premanisme dan ketidakwarasan terstruktur, sistematis, dan massif oleh kubu 02 dalam berpolitik. (*)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...