Mentan Amran Sulaiman Tinjau Langsung Program Serasi di Batola

Sabtu, 25 Mei 2019 - 15:29 WIB

BATOLA – Kementerian Pertanian (Kementan) optimistis program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi) di Kalimantan Selatan (Kalsel) sesuai harapan. Untuk memastikannya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman hari ini meninjau langsung dua lokasi lahan rawa di Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalsel yang termasuk dalam program Serasi,

Kabupaten Batola ini adalah salah satu daerah yang terbesar mendapatkan dana program ini, yakni Rp 200 miliar lebih. Saat ini, alokasi program Serasi di Batola seluas 56.042 hektare.

“Dalam mewujudkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia 2045, salah satu potensi besar yang dapat dikembangkan yakni lahan rawa lebak dan pasang surut. Lahan rawa harus Kita manfaatkan. Kita bangunkan raksasa tidur,” ujar Mentan Amran, Sabtu (25/5).

Lokasi pertama yang dikunjungi Mentan Amran Sulaeman adalah lahan rawa yang ada di Desa Tumih, Kecamatan Wanaraya. Di sini Mentan melakukan peninjauan areal pembuatan tanggul dengan brigade alat excavator.

“Kita ingin menggerakan pertanian secara modern sesuai yang diharapkan Bapak Presiden,” kata Mentan Amran.

Dalam kesempatan ini, Mentan Amran Sulaiman juga berdialog dengan Kadis Pertanian dan petani terkait Program Serasi. Sekaligus memberikan arahan tentang pengolahan normalisasi saluran.

“Alhamdulillah mimpi besar kita untuk membangunkan lahan tidur yaitu rawa di Kalsel dan Sumsel hari ini menjadi kenyataan,” kata Mentan Amran.

Lokasi berikutnya yang dikunjungi adalah Desa Kokida, Kecamatan Barambai. Di sini Mentan akan meninjau lokasi olah lahan dan tanam padi ketiga dan menuju Posko Serasi Gapoktan Kokida, yang merupakan satu contoh keberhasilan program Serasi. Mentan melihat langsung kegiatan pembersihan saluran sekunder dan tersier dengan excavator.

“Kami sangat bangga kepada seluruh tim terkhusus kepada Pak Danrem, Pak Dandim, Pati dari Jakarta, Pak Dirjen, Kepala Dinas, kami ucapkan terima kasih. Karena masyarakat kami sudah dengar langsung bagaimana bahagianya mereka, bagaimana senangnya mereka menyambut program ini.” ucap Amran.

“Saya yakin jika program ini berjalan dengan baik, maka petani bisa untung dua kali lipat. Dan itu sudah sesuai dengan mimpi besar kita, yaitu kesejahteraan petani,” sambung Mentan Amran.

Amran menambahkan, dulu di sini tanam satu kali pertahun produksinya 2 ton. Kalau tahun ini sudah bisa tanam dua kali bahkan tiga kali pertahun, produksinya mencapai 6 ton. Artinya peningkatannya bisa naik sampai 6 atau 10 kali lipat.

“Sekarang ini target kita adalah bagaimana mengangkat perekonomian petani-petani Indonesia melalui transformasi pertanian tradisional menjadi pertanian moderen,” kata Mentan Amran.

Dijelaskan Amran, dua tahun yang lalu, pihaknya melakukan penelitan dan pengamatan terkait persoalan di lahan rawa. Yang pertama, adalah benih yang ditanam tidak cocok , sehingga dicari benih yang cocok.

“Dengan kondisi Ph yang rendah, kita temukan Infara 2 yang bisa menyesuaikan produksi 6 ton,” ucap Amran.

Yang kedua adalah teknologi. Yakni Water Management/Manajemen Air yang airnya harus tersikulasi, mengalir, tidak boleh mengendap, ini juga dapat mengangkat Ph tanah yang rendah.

“Kemudian yang ketiga adalah cara pengolahan. Pengolahan minimun tidak boleh diolah terlalu dalam, maksimal 30 cm sehingga ph rendah didalam tidak terganggu. Inilah tiga teknologi yang kita gunakan dan sudah berhasil. Bisa jadi nanti kedepan produksi bisa menjadi 10 ton tapi sekarang dari 2 ton menjadi 6 ton itupun sudah luar biasa,” paparnya.

Produksi 2 ton menjadi 6 ton berasal dari Kalsel dan Sulsel. Tapi fokus Kementan ada 5 provinsi. Amran menyampaikan, target lahan seperti ini di Indonesia seluas 500 ribu hektar.

“Tahun lalu hanya 41 ribu hektar. Awal kita coba hanya 1000 hektar, naik 40 ribu dan tahun ini harus naik 10 kali lipat 500 ribu hektare,” pungkas Mentan Amran.

Dalam kesempatan ini, Mentan Amran Sulaiman juga mendengarkan paparan dari Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy terkait progress Program Serasi.

Di Kalsel potensi lahan rawa ada sekitar 257.300 ha. Dari jumlah tersebut yang sudah ada CP/CL (Calon Petani/Calon Lahan) seluas 160.481 ha. Sudah disurvey seluas 43.188 hektar dan sudah didesain seluas 38.121 hektar. Sementara yang dalam proses pekerjaan fisik kontruksi seluas 2.143 hektar. Yang sudah SP2D Rp 9,2 miliar dan yang dalam proses RPD Rp 26 miliar.

Dijelaskan Sarwo Edhy, melalui program ini, ditargetkan lahan yang belum pernah tanam bisa tanam sekali, yang sudah tanam sekali bisa dua kali, yang sudah tanam dua kali bisa dijadikam tiga kali. Sehingga terjadi optimalisasi dan nambah produksi untuk petani.

“Saat ini petani di Barambai, sudah tanam dua kali. Namun tanam pertama dengan menggunakan varietas lokal, produktivitasnya rendah yaitu 1,5-2 ton/ha. Sementara tanam kedua dengan varietas unggul, produktivitas naiknya 3-4 ton/ha,” jelas Sarwo Edhy.

Rendahnya produktivitas pada tanam pertama karena petani pakai bibit varietas lokal. Disamping itu disebabkan suplai air ke sawah sangat kurang dan pupuk dolomit untuk menyuburkan lahan.

“Dengan Program Serasi, diharapkan masalah air dapat diatasi, begitu juga bibit,” harap Sarwo Edhy.

Dalam program Serasi bertumpu pada sejumlah kegiatan. Di antaranya pembuatan polder keliling dan tanggul pada saluran tersier dengan menggunakan excavator, normalisasi kanal sekunder pada daerah irigasi rawa dengan menggunakan excavator dan pembuatan saluran tersier baru untuk membawa air hingga ke tengah lahan.

Program ini juga melibatkan penggunaan alat mesin pertanian (alsintan). Seperti traktor roda 2, traktor roda 4 dan bulldozer D21 yang didesain khusus untuk lahan rawa untuk proses pengolahan lahan.

Selain itu, juga dilakukan langkah menaikkan ph tanah dengan menggunakan berbagai teknologi. Di antaranya penggunaan amelioran kapur pertanian dan mikroba tanah. Juga dilakukan pemanfaatan decomposer hasil riset Balittra untuk mempercepat proses penguraian sisa-sisa rumput belukar yang dibersihkan.

“Sehingga tidak diperlukan pembakaran. Dan Penggunaan benih resisten genangan dan kemasaman, seperti Inpar,” tuturnya.

Pola optimasi lahan rawa yang dilaksanakan Kementan ini telah terbukti berhasil membalikkan kondisi rawa yang suram, menjadi harapan sumber penghasil pangan masa depan.

Direktur Perluasan dan Perlindungan Lahan Indah Megawati menambahkan, Kementan tahun ini melalui program Serasi, akan mengoptimalkan lahan rawa dan pasang surut seluas 500.000 ha di enam provinsi. Yaitu Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Lampung, Riau dan Kalimantan Tengah.

“Semakin banyak provinsi tentunya lebih baik. Jika satu provinsi ada masalah teknis, maka dapat dialihkan kepada provinsi lain, sehingga capaian target lebih luas,” jelas Indah.

Dilanjutkan Indah, dalam Program Serasi, Kementan juga melibatkan TNI AD. Peran dan fungsi TNI dalam pendampingan pelaksanaan kegiatan antara lain mengkoordinasikan peran serta Babinsa dalam kegiatan yang dilaksanakan petani.

Selain itu, TNI akan membantu pelaksanaan SID dalam hal sosialisasi kegiatan dan mendampingi dalam proses survey lapangan. Mendampingi proses pengerjaan fisik di lapangan.

“TNI juga akan membantu menyampaikan laporan perkembangan kegiatan dan memastikan semua spesifikasi pekerjaan telah telah terlaksana dengan rencana,” pungkasnya.(*)