Rusuh 22 Mei, YLBHI Minta Elite 01 dan 02 Tanggung Jawab

Minggu, 26 Mei 2019 - 22:04 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Asfinawati meminta para elite politik ikut bertanggung jawab atas pecahnya kerusuhan di depan kantor Bawaslu, Jakarta Pusat, pada 22 Mei 2019.

Menurut dia, elite politik terutama kedua kubu peserta Pilpres 2019, banyak menyumbangkan narasi provokatif selama masa kampanye. Dari narasi provokatif itu, situasi perpolitikan semakin memanas.

“Kami minta agar para elite politik bertanggung jawab karena kerusuhan tersebut dimulai sejak lama sebagai eskalasi pernyataan provokatif, ujaran kebencian, dan pelintiran kebencian, terutama dari kedua kubu peserta Pemilu 2019,” ungkap dia.

Menurut dia, narasi provokatif membuat situasi masyarakat terbelah. Setelah terbelah, para elite lepas tangan. Terutama, saat kerusuhan pecah pada 22 Mei.

“Masyarakat harus bersama-sama menghentikan kekerasan politik seperti ini, dalang dan sistemnya harus dibongkar,” ungkap dia.

Bagasi Jemaah, Ini Tujuh Ketentuan yang Harus Dipatuhi

Sementara itu, Amnesty International Indonesia menyoroti penanganan kepolisian ketika menangkap oknum terduga perusuh. Sebab, para terduga perusuh juga mengalami tindak kekerasan oleh aparat kepolisian.

Sebagai catatan, polisi menangkap ratusan orang yang diduga kuat sebagai oknum perusuh setelah kerusuhan pecah pada 22 Mei. Setelah ditangkap, polisi telah menetapkan tersangka kepada oknum perusuh.

“Kawan-kawan di sini memantau, mereka yang ditangkap itu diperlakukan oleh kekerasan juga,” tutur peneliti Amnesty Internasional Papang Hidayat, Minggu. (jpnn)