Keunikan Rumah Adat Soppeng dan Ritual Mappadendang

FAJAR.CO.ID -- Musim panen telah tiba, jejeran karung berisi gabah menjadi ornamen tambahan indahnya hamparan Desa Batu-Batu, Kabupaten Soppeng. Terlihat hasil panen tersebut rapi berderet tepat di hadapan masing-masing tanah sawah yang telah melahirkannya sebagai hasil bumi paling pokok untuk penghidupan manusia.

Tak ada kata yang mampu terucap selain kalimat takjub dan syukur atas hasil yang sempat terpamerkan itu.

Dahulu kala, saat musim panen tiba para warga biasanya memotong ujung batang padi dengan ani-ani, sebuah pisau berukuran kecil. Setelah terkumpul, padi hasil panenan dirontokkan dengan cara menumbuknya dalam sebuah lesung.

Suara benturan alu dan lesung tersebut menghasilkan suara nyaring bertalu-talu. Metode tradisional ini dilakukan secara turun temurun, yang lambat laun mulai ditinggalkan setelah pemerintah menggulirkan program intensifikasi pertanian guna mendongkrak produktivitas.

Namun, representasi dari metode tradisional tersebut tersubtitusi dalam sebuah karya seni yang disakralkan melaui ritual adat budaya yang disebut Mappadendang. Seperti yang sedang berlangsung di Rumah Adat Sao Mario, Batu-Batu, Soppeng.

Tampak beberapa perempuan dan lelaki dilengkapi baju adat melakukan pertunjukan mappadendang. Perempuan memukul lesung panjang menggunakan alu seperti sedang menumbuk padi, di mana suara yang diciptakannya mengeluarkan bunyi yang sinkron dan serasi sehingga membentuk sebuah irama.

Sementara, dua orang lelaki menabuh gendang mengikuti irama lesung yang bertalu-talu. Lelaki lainnya melakukan gerak seperti sedang menari dengan alu di tangan, dan sesekali ikut menumbukkan alunya ke bagian ujung lesung dengan riang gembira.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Muhammad Nursam


Comment

Loading...