Keunikan Rumah Adat Soppeng dan Ritual Mappadendang

0 Komentar

FAJAR.CO.ID — Musim panen telah tiba, jejeran karung berisi gabah menjadi ornamen tambahan indahnya hamparan Desa Batu-Batu, Kabupaten Soppeng. Terlihat hasil panen tersebut rapi berderet tepat di hadapan masing-masing tanah sawah yang telah melahirkannya sebagai hasil bumi paling pokok untuk penghidupan manusia.

Tak ada kata yang mampu terucap selain kalimat takjub dan syukur atas hasil yang sempat terpamerkan itu.

Dahulu kala, saat musim panen tiba para warga biasanya memotong ujung batang padi dengan ani-ani, sebuah pisau berukuran kecil. Setelah terkumpul, padi hasil panenan dirontokkan dengan cara menumbuknya dalam sebuah lesung.

Suara benturan alu dan lesung tersebut menghasilkan suara nyaring bertalu-talu. Metode tradisional ini dilakukan secara turun temurun, yang lambat laun mulai ditinggalkan setelah pemerintah menggulirkan program intensifikasi pertanian guna mendongkrak produktivitas.

Namun, representasi dari metode tradisional tersebut tersubtitusi dalam sebuah karya seni yang disakralkan melaui ritual adat budaya yang disebut Mappadendang. Seperti yang sedang berlangsung di Rumah Adat Sao Mario, Batu-Batu, Soppeng.

Tampak beberapa perempuan dan lelaki dilengkapi baju adat melakukan pertunjukan mappadendang. Perempuan memukul lesung panjang menggunakan alu seperti sedang menumbuk padi, di mana suara yang diciptakannya mengeluarkan bunyi yang sinkron dan serasi sehingga membentuk sebuah irama.

Sementara, dua orang lelaki menabuh gendang mengikuti irama lesung yang bertalu-talu. Lelaki lainnya melakukan gerak seperti sedang menari dengan alu di tangan, dan sesekali ikut menumbukkan alunya ke bagian ujung lesung dengan riang gembira.

Para tamu yang hadir menikmati pertunjukan itu, beberapa di antaranya tak mau kalah masuk ke arena ikut menari secara bergantian.

Pertunjukan tersebut merupakan salah satu persembahan rangkaian event budaya dan pesta rakyat yang diinisiasi oleh Prof Dr A Suriyaman Mustari Pide SH MH putri dari Almarhum Prof A Mustari Pide (pendiri Rumah Adat Sao Mario). Terselenggaranya event tersebut sebagai bentuk kegembiraan masyarakat menyambut pesta panen raya.

Menurutnya, menuai padi ibarat klimaks perjuangan para petani setelah menyemai di atas perut bumi kala terik maupun hujan, yang pada akhirnya membawa kita pada perenungan kosmologi hidup para petani.

“Jadi, ini merupakan bentuk kegembiraan atas kelimpahan berkah, bukan sekedar pesta tapi juga patut dilihat dari sudut pandang falsafah hidup, bagaimana manusia dan alam ini bekerja atas kuasa Sang Pencipta,” papar Prof Andi Riry, sapaan akrabnya.

Walaupun dengan waktu dan persiapan mendadak, berkat dukungan pemerintah setempat dan antusiasme masyarakat, kegiatan tersebut dapat terlaksana. Prof Andi Riry mengaku tergerak hatinya untuk melakukan sebuah pagelaran sebagai wujud pelestarian budaya nusantara yang mulai tergerus oleh budaya luar karena dalih modernisasi.

Hal tersebut juga tak lepas dari komitmen beliau untuk mendidikasikan diri sebagai pemerhati budaya dan kearifan lokal, disamping eksistensinya sebagai Guru Besar Hukum Adat di Fakultas Hukum UNHAS.

Selain mappadendang, acara tersebut turut dimeriahkan oleh beberapa special perform, yakni tarian tradisional, oni-oni toriolo (bunyi-bunyian orang dulu), live band accoustic, ditambah bazaar kuliner yang menyajikan aneka menu tradisional secara gratis.

Pagelaran tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan seni dan budaya masyarakat Sulsel. Terlebih lagi dalam kawasan rumah Adat Sao Mario terdapat 4 jenis rumah adat, yakni Rumah Adat Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja yang merupakan empat etnis terbesar yang ada di Sulawesi Selatan. Sehingga para tamu yang hadir tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berkeliling melihat bentuk dan koleksi barang antik yang ada di dalam rumah adat.

Setiap rumah memiliki lebih dari 100 tiang, mungkin itulah mengapa warga Soppeng lebih familiar dengan sebutan Bola Siratu’e (rumah seratus). Selain rumah adat, dalam kawasan tersebut juga terdapat gallery shop yang berisi souvenir etnik khas sulawesi, baruga sanggar tari, dan beberapa gazebo kayu di sekitaran rest area yang sementara dalam tahap konsep pengembangan.

“Saya sangat beryukur dan bangga, sebab almarhum ayahanda mendididakasikan dirinya melalui karsa dan karyanya mendirikan rumah Adat Sao Mario ini. Sehingga wujud abdi saya terhadap ayahanda tercinta adalah bagaimana menjalankan amanah sebagai generasi penerus yang mampu menjadikan keberadaan rumah adat ini lebih bernilai bagi sekitar, setidaknya dapat menjadi wadah eksplorasi budaya. Kebudayaan adalah karakteristik bangsa yang harus dilestarikan, jika bukan kita yang peduli, siapa lagi?” ujarnya.

Dalam sambutannya, dia tak lupa menyampaikan rasa terima kasih kepada jajaran pemerintah setempat, yang saat itu diwakili oleh Camat Marioriawa.

“Saya sangat berterima kasih kepada seluruh jajaran pemerintah setempat. Bersyukur karena kita memiliki pemimpin yang apresiatif dan responsif, sehingga insyaAllah kita bisa saling bersinergi membawa daerah ini lebih maju dan dikenal luas,” katanya.

Dia juga berharap dukungan dari pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat agar pagelaran tersebut ke depannya bisa menjadi event tahunan, yang mampu menarik perhatian skala nasional hingga manca negara. (rls)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...