Kompromi

0 Komentar

Oleh: Aidir Amin Daud

PERDANA MENTERI (PM) Inggris, Theresa May, mengumumkan dirinya akan mundur dari jabatannya tanggal 7 Juni nanti. Berpidato di depan rumah jabatannya: 10 Downing-Street, May menyatakan dia telah gagal memenuhi harapan rakyat Inggris pada referendum 2016.
Pengunduran diri PM May ini diumumkan saat parlemen Inggris tak kunjung menyetujui kesepakatan Brexit yang diajukannya, sehingga mempersulit proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Seperti kita ketahui, Inggris memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa berdasarkan hasil referendum yang dilaksanakan pada tanggal 23 Juni 2016. Tetapi sebenarnya Inggris tidak langsung keluar dari Uni Eropa segera setelah hasil referendum Brexit tersebut diumumkan. Melainkan ada proses panjang yang harus dijalani sebelum Inggris benar-benar keluar dari Uni Eropa. Proses panjang inilah yang gagal dipenuhi PM May —meskipun ia sudah mencoba melakukan yang terbaik. Bahkan 3 kali langkah penting. Untuk itu, ia mundur dan memberi kesempatan kepada pemimpin berikutnya.
***

Ada hal yang menarik saat PM May berpidato kemarin. Ia mengutip sebuah pernyataan yang pernah dibisikkan salah seorang tokoh kemanusiaan, Sir Nicholas Winton. Menurut May beberapa tahun sebelum Sir Nicholas wafat, ia bertemu di sebuah even-lokal dan membisikkan sebuah advis. “Never forget that compromise is not a dirty word. Life depends on compromise,” kata Sir Nicholas. Ia selalu ingat kata-kata itu dan menurut May, “He was right!”.

Menurut May kompromi harus menjadi sikap dasar dari penerusnya nanti untuk menghasilkan keputusan yang baik bagi Inggris. May juga menyatakan kecintaannya kepada negara dan bangsa Inggris dan bangga pernah menjadi perdana menteri di sana.

Kata ‘kompromi’ yang diucapkan PM May — berdasarkan bisikan Sir Nicholas kepada dirinya — agak menjadi sesuatu yang relevan di negeri kita saat ini. Pelaksanaan Pemilihan Presiden yang cukup ‘hiruk-pikuk’ seharusnya berujung kepada rekonsiliasi nasional di antara semua kelompok anak bangsa. Apalagi setelah terjadinya kerusuhan yang memakan korban kematian tujuh orang yang disebut ‘perusuh’ oleh pihak berwajib.

Rekonsiliasi hanya bisa datang dari mereka yang sedang ‘bertikai’ terutama para elite. Harus ada ‘kompromi-kompromi’ politik. Menurut Sir Nicholas, “Never forget that compromise is not a dirty word. Life depends on compromise.”

Kita bergembira ketika Presiden Jokowi mengonfirmasi adanya pertemuan Wapres JK dan Capres-02 Prabowo. Kita membacanya sebagai sudah ada ‘kompromi’ untuk mencari kebaikan bagi bangsa ini. Apalagi sebagaimana diungkapkan Presiden pertemuan itu atas dasar insiatifnya dan JK. “Atas inisiatif saya dan Pak JK,” ujarnya. Maka kita harus mengapresiasi — kompromi sudah menjadi sikap dasar bagi para pemimpin kita. Sikap dasar dari mereka yang telah memilih menjadi negarawan bangsa ini. Compromise is not a dirty word. **

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...