Menghilang 10 Bulan, Remaja Masjid yang Pulang Salat Subuh Ditemukan Tinggal Belulang

Selasa, 28 Mei 2019 - 20:35 WIB
ILUSTRASI

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Penemuan kerangka diduga manusia yang sempat menggegerkan warga Kampung Maccini Oto, Kelurahan Bontoperak, Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkep November 2018 lalu akhirnya terungkap.

Pengungkapan misteri penemuan mayat yang hanya tinggal tulang ini teridentifikasi setelah tim gabungan dari DVI Biddokes Polda Sulsel bekerja sama dengan Residen (PPDS Forensik FK-Unhas) dan dokter muda FK-Unhas, FK-Unismuh serta FK-UMI melakukan pemeriksaan selama kurang lebih dua bulan di ruang SCI Forensik Dokpol Biddokkes Polda Sulsel.

Kabiddokkes Polda Sulsel, Kombes Pol dr R Harjuno mengatakan, penemuan kerangka mayat ini terjadi pada Rabu, 11 November 2018, lalu. Setelah dilakukan pemeriksaan kurang lebih dua bulan lamanya, akhirnya tim DVI berhasil mengidentifikasi identitas korban.

“Kerangka mayat manusia tersebut teridentifikasi bernama Rahmat,” katanya, di hadapan awak media Selasa (28/5/2019) sore.

Kata dia, setelah kerangka mayat itu ditemukan, tim DVI langsung melakukan penyelidikan dan pemeriksaan di ruang SCI Forensik Biddokkes Polda Sulsel. Mulanya, tim melakukan pengambilan sampel DNA di lokasi penemuan yang diduga kerangka manusia.

Untuk mencocokkan hasil DNA korban, tim juga mengambil sampel DNA kepada kedua orang tua yang diduga keluarga korban. Setelah pengambilan sampel DNA, sampel tersebut dilabel sesuai dengan pengambilan sampel DNA setelah penglabelan.

“Setelah kita lakukan penglabelan kedua DNA, selanjutnya sampel tersebut dikirim ke Pusdokkes Polri untuk mengetahui hasil DNA terhadap temuan kerangka manusia yang diduga keluarga korban,” terangnya.

Setelah beberapa bulan kemudian, hasil DNA dari Pusdokkes Polri akhirnya diterima Forensik Biddokkes Polda Sulsel pada 31 Januari 2019 lalu. Dan adapun hasil dari pemeriksaan dan analisa terhadap seluruh profil DNA dari sampel barang bukti, maka telah dapat dibuktikan secara ilmiah dan tidak terbantahkan secara genetik bahwa sampel tulang femur teridentifikasi sebagai Rahmat, anak biologis dari pasangan Mustafa bin Sabbe dan Siti Mina.

Sementara itu, Abbas Hasan, paman korban membeberkan bahwa berdasarkan keyakinan dan firasat keluarganya, ia menyakini bahwa keponakannya (Rahmat) tersebut merupakan korban tabrak lari pada Januari 2018 lalu. Dan waktu itu, korban ditabrak lalu terlempar ke rawa-rawa, yang jaraknya tidak jauh dari jalan poros.

“Kemungkinan korban (Rahmat) ditabrak mobil, sesuai dengan fakta yang ditemukan pada tengkorak kepalanya. Saat kejadian itu, korban habis salat subuh, dan habis salat subuh biasanya jalan-jalan,” bebernya, saat ditemui di ruang Biddokkes Polda Sulsel.

Dia menerangkan bahwa Rahmat selama ini orang yang patuh kepada kedua orang tuanya. Selama ini, korban aktif sebagai remaja masjid. Dan dia juga merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. “Dia anak remaja masjid. Kejadiannya Januari 2018, dan 10 bulan kemudian baru ditemukan kerangkanya atau tinggal tulang,” pungkasnya. (gun)