Menjadi Capit


Oleh: Hamdan JuhannisSEBUAH pengalaman bincang yang patut saya selalu ingat. Kejadiannya kemarin sore di kantor PT. Semen Tonasa di Kab. Pangkep. Pak Subhan, Direktur Utama, mengundang untuk memotivasi anak-anak yatim dalam acara buka puasa bersama.Setelah itu kami berbincang dengan petinggi Semen Tonasa yang saya anggap sebagai perbincangan berkualitas, khususnya bagi diriku yang sangat awam dengan semen. Yang saya selalu ingat tentang Semen Tonasa hanya: Berdiri Kokoh dan Kuat. Beda dengan diriku sekarang, yang sudah tidak lagi kokoh dan tidak lagi begitu kuat.Namun sore itu saya begitu berbahagia, banyak cerita kebijaksanaan dari Prof. Idrus Paturusi yang sangat mengasyikkan. Dalam lalu lintas cengkrama itu, ada satu isu perbincangan yang menarik yaitu tentang: Kepiting. Anda pasti ngiler kan? Apa lagi kalau kepiting bertelur!Yang menariknya adalah ketika Pak Subhan sempat menyinggung prilaku kepiting karena disitu ada filosofi hidup yang patut dipelajari. Saya sangat menyimak bukan hanya karena isunya menarik tapi saya kaitkan dengan sosok yang berbicara. Saya tahu betul Pak Subhan berasal dari sebuah kampung produksi kepiting. Beliau juga pernah melakoni cara memancing kepiting sewaktu masih di kampungnya di Bone.Beliau menjelaskan bagaimana cara kepiting itu diarahkan keluar dari lubangnya untuk masuk ke sangkar jebakan. Caranya sangat sederhana. Mereka cukup dipancing dengan lidi kecil yang tidak mudah putus. Sifat kepiting itu sangat sensitif terhadap gangguan dan saat terganggu pasti capitnya menjepit. Jepitan itu adalah serangan terhadap gangguan dan ketika menjepit, kepiting tidak akan pernah melepaskannya, sampai rela capit terlepas dari tubuhnya sekalipun. Saat lidi tersebut dijepit lalu ditariklah keluar dan dimaksukkanlah ke dalam sangkar jebakan.Filosofinya menurut beliau adalah belajar untuk tidak menjadi seperti watak kepiting. Kita jangan mudah terjebak dengan umpan kehidupan. Banyak orang yang begitu mudahnya tersulut emosi saat diumpan dengan provokasi.Banyak yang begitu mudahnya bereaksi terhadap situasi yang tidak berkenaan di sekitarnya dengan cara yang berlebihan tanpa kontrol. Banyak yang tiba-tiba tersulut kemarahan terhadap berita yang kurang berkenaan yang sampai pada dirinya, dan menjepitlah kemarahan itu tanpa ingin menundanya sesaat untuk mengecek kebenarannya. Atau paling tidak memikirkan sesaat akan efek buruk dari kemarahannya.Yang terjadi mereka terjerumus ke dalam sangkar jebakan; hatinya sakit, jiwanya meronta, psikisnya labil, fisiknya terkungkung, dan silaturrahimnya terkoyak. Yah, sekali lagi mari belajar dari perilaku kepiting. Kepiting cocoknya memang dimakan, bukan diikuti perilaku emosi destruktinya. (*)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...