Altruisme Politik Pasca-Pilpres


Oleh: Usman Suhuriah (Pendiri Sekolah Pemilu & Demokrasi Sulawesi Barat)Pemilihan presiden dan wakil presiden telah berlalu. Calon presiden dan wakil presiden yang telah ditetapkan sebagai calon terpilih tentu tidak akan berhenti di situ.Langkahnya masih panjang, meski keduanya butuh kesempatan yang luas untuk menyegerakan pemulihan stabilitas politik oleh pertentangan-pertentangan yang berlangsung, baik sebelum pemilu maupun sesudahnya. Kepentingannya jelas, karena agenda berikutnya adalah mengelola amanah dari jutaan masyarakat pemilih yang telah diberikan sesaat hari H pemilihan umum.Hal yang lazim bagi momentum pemilu, -termasuk setelahnya -untuk tetap menghadapi pertentangan-pertentangan. Pertentangan yang ada merupakan konsekuensi sekaligus sebagai fakta politik yang menanti untuk dikelola lebih lanjut. Pertentangan yang ada memerlukan pengelolaan dalam bentuk rekonsiliasi oleh pihak-pihak yang berbeda.Tanpa mengkhawatirkan secara berlebihan, namun yang perlu dipertimbangkan adalah dampak lanjut yang timbul bagi kehidupan sosial politik, terutama bagaimana agenda mempercepat tercapainya tujuan kesejahteraan di masyarakat. Merealisasikan rencana pembangunan seperti yang tertuang dalam visi keberhasilan dan janji kampanye capres dan cawapres sebelum pemilu dilangsungkan.Selanjutnya, faktor yang dapat menghambat pencapaian visi keberhasilan itu adalah bila masih terdapat pertentangan yang berlebihan atau silang sengkarut yang akan terus muncul. Terlebih bila pertentangan itu dilatarbelakangi oleh isu politik yang kurang produktif.Bila pertentangan yang bersifat konfliktual dibiarkan, maka akan berujung pada kurang maksimalnya dukungan para pihak bagi usaha merealisasikan segala visi keberhasilan yang pernah ada. Dengan kata lain, bila pertentangan terus-terusan muncul maka kesempatan untuk bersama-sama mempercepat kemajuan nasional akan terbuang begitu saja.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...