LK ESQ Ajak 1000 Anak Bermain Tradisional

Rabu, 29 Mei 2019 - 23:40 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Dewasa ini manusia semakin dimanjakan dengan kecanggihan teknologi. Mulai anak-anak hingga orang dewasa sepertinya tidak bisa lepas dari gadgetnya masing-masing, baik itu untuk tujuan pekerjaan, komunikasi, bahkan hiburan atau game.

Sadar ataupun tidak, fokus kita telah dialihkan dari hal-hal yang konvensional menjadi lebih instan, contohnya permainan. Jika kembali mengingat zaman dulu anak-anak sangat akrab dengan permainan tradisional.

Tanpa teknologi, kita bisa bermain riang gembira, membentuk team work dan bekerjasama. Hal ini tak hanya memberikan dampak secara psikologis tetapi juga dampak baik bagi kesehatan. Dengan bergerak aktif, anak-anak akan tumbuh menjadi anak yang sehat.

Tapi kondisi saat ini berbeda. Selain memberikan kemudahan, gadget juga memberikan dampak buruk pada perkembangan anak dalam berbagai aspek. Anak-anak zaman sekarang tidak lagi mengenal berbagai permainan tradisional seperti Gasing, Egrang, Dampu, Congklak, Kelereng, Galasin, Karet, dan permainan nusantara lainnya.

Hal ini dikarenakan, perhatian anak sudah teralihkan oleh gadget. “WHO baru-baru ini mengeluarkan statement bahwa gadget sudah menjadi adiksi dan harus dicegah,” jelas Ary Ginanjar Agustian Founder ESQ pada temu media bertajuk “Jelajahi Permainan Rakyat Nusantara” di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (29/5).

Melihat fakta ini, Lembaga Kemanusiaan (LK) ESQ memboyong 1.000 anak yatim piatu dan dhuafa untuk bermain permainan tradisional bertajuk “Jelajahi Permainan Rakyat Nusantara” di TMII Rabu (29/5).

“Seribu anak-anak yatim piatu dan dhuafa ini adalah anak-anak panti asuhan dan lembaga pendidikan dibawa binaan Lembaga Kemanusiaan ESQ yang tersebar di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Cikarang,” jelas Lea Sri Endari Irawan, Ketua Lembaga Kemanusiaan ESQ.

Lebih lanjut perempuan yang akrab disapa Lea Irawan ini menjelaskan, “Jelajahi Permainan Rakyat Nusantara” ini merupakan tema kegiatan edukasi melestarikan budaya Indonesia melalui permainan rakyat nusantara dan mengembalikan dunia bermain anak.

“Kegiatan hari ini adalah rangkaian acara Semesta Ramadhan,” ujar Lea Irawan menambahkan.

Berawal dari keprihatinan terhadap kondisi saat ini dimana gadget sudah sangat mempengaruhi kehidupan anak-anak.

“Kita lihat dari berbagai lapisan usia sudah terbawa gadget terutama anak-anak. Anak-anak kini punya dunianya sendiri padahal sesungguhnya mereka masih butuh waktu untuk bermain bersama, membemtuk team work seperti kenangan kita puluhan tahun lalu,” jelas Lea Irawan.

Lembaga Kemanusiaan ESQ mengajak anak-anak untuk belajar mengenal kebudayaan daerah dan bermain permainan nusantara. Anak-anak berkunjung ke beberapa Anjungan daerah yang ada di Taman Mini Indonesia Indah, antara lain; Anjungan Sumatera Barat, Anjungan Daerah lstimewa Yogyakarta, Anjungan Kalimantan Selatan, Anjungan Sulawesi Tenggara, dan Anjungan Nusa Tenggara Barat.

“Di setiap anjungan anak-anak diajak mengenal dan bermain permainan Gasing, Egrang, Dampu, Congklak, Kelereng, Galasin, Karet, dan permainan nusantara lainnya. Setidaknya ada 10 permainan tradisional disetiap anjungan,” jelas Lea Irawan.

Meski pun tidak bisa lagi mengembalikan permainan tradisional nusantara di zaman teknologi ini, Lea Irawan berharap dengan mengenalkan anak-anak permainan zaman dulu setidaknya mereka bisa membawa permainan ini kepada lingkungan tempat mereka tinggal dan disampaikan kepada anak cucunya kelak.

Lebih lanjut Ary Ginanjar menambahkan bahwa kegiatan Semesta Ramadhan ini melahirkan empat aspek yakni fiskal, intelektualitas, emosional, dan spiritualitas.

“Aspek pertama memberikan dampak fiskal yakni kami menampung donatur untuk memberikan dana infak kepada orang yang membutuhkan,” kata Ary Ginanjar.

Kedua, aspek intelektualitas. Sebagaimana yang diungkapkan WHO bahwa generasi penerus bangsa mengalami adiksi gadget. “Hal ini harus dicegah, salah satu cara yaitu lewat permainan tradisional. Kita mencoba mengalihkan fokus anak-anak bahwa mainan tradisional gak kalah menariknya,” jelas Ary Ginanjar.

Ketiga, ia menjelaskan manfaat dari sisi emosionalitas. “Kita bisa liat tawa dan kebersamaan mereka. Mereka tertawa karena melihat temannya main gundu yang belum pernah dia mainkan. Hal ini memberikan suasana berbeda, ada mainan baru, teman baru yang kemudian membangun alam bawa sadarnya. Dan apa yang dia lakukan hari ini akan diingat sampai dia tua,” jelasnya lagi.

Keempat, aspek spiritualitas. “Kita semua punya kewajiban membayar zakat oleh seluruh insan yang mampu. Yang menerima akan mendapat cinta dan kasih sayang,” kata Ary Ginanjar.

“Harapan saya, dengan segi empat ini semuanya terpenuhi. Mudah-mudahan menjadi nilai tambah di samping zakat yang diberikan secara konvensional,” pungkasnya.

Dalam kegiatan ini juga Lembaga Kemanusiaan ESQ memberikan uang santunan, bingkisan dan perlengkapan sekolah bagi 1.000 anak yatim, piatu, dan dhuafa. Setelah mengikuti acara ini diharapkan anak-anak mengetahui tentang berbagai macam permainan rakyat yang merupakan kebudayaan kekayaan luhur budaya bangsa Indonesia.

Selain itu, anak-anak dapat melestarikan kebudayaan dan permainan nusantara yang beragam.

Acara Semesta Ramadhan dengan konsep edutainment ini mendapat dukungan dari berbagai perusahaan, diantaranya PT. L’Essential, PT. Pegadaian (Persero), Yayasan Baitul Maal BRI (YBM BRI), Paxel, CIMB Niaga Syariah, Lotteria, Sandal Lucu (SANCU), Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa (YWBNB), APP Sinar mas, Trac, Green Bottle, dan TMII.