Membangun Toleransi Masyarakat Global


Oleh: Irjen Pol Hamidin (Kapolda Sulsel)(Bagian Terakhir dari Dua Tulisan)Sebagai mana penulis ungkap beberapa waktu lalu tentang New zealand, betapa terkejutnya Perdana Menteri New Zealand, Jacinda Ardern begitu dilaporkan oleh stafnya tentang tragedi penyerangan umat Muslim saat sedang melaksanakan Ibadah- salat Jumat, yang mengakibatkan 51 Jemaah Masjid Al Noor dan Linwood di Churstchurch tewas. Hal itu yang mendorong sang Perdana Menteri untuk terbang ke Perancis dan mengajak Presiden Prancis Emanuel Macron guna membuat perjanjian dan kerjasama yang bertajuk “Christchurch Response” atau “panggilan Chirstchurst”. Poin inti konsep kesepahaman adalah ajakan agar vendor-vendor raksasa komunikasi seperti google, ig, fb, microsof mau melakukan sensor terhadap konten radikalisme kekerasan.Acuan yang dipakai bahwa penyerangan masjid Al Noor dan Linwood tersebut sudah di-share melalui FB dan juga ditemukannya 74 manifesto yang mendeklarasikan pelaku adalah individi yang “anti-imigran” yang menyiratkan rasa kebencian etnik yang begitu membara di dalam jiwanya. Tapi di sudut pandang yang lain, kelompok radikalis agama pro kekerasan online, membacanya sebagai kebencian umat beraqidah berbeda terhadap umat Islam.Menganggap bahwa orang yang menyerang masjid di New Zealand itu adalah umat nasrani. Apa yang dibangun pemerintah New Zealand terhadap situasi saat itu? Adalah membangun narasi-narasi positif tentang Islam. Menekankan agama Islam adalah agama yang damai dan mendamaikan. Pemerintah mengecam. Kenapa Islam harus diserang.

Komentar

Loading...