Ramadhan, Penghuni Lapas Bisa Berbuka Bersama Keluarga 


Untuk acara tersebut memang ada beberapa hal khusus yang dilakukan. Misalnya, perangkat permainan anak-anak yang biasanya ada di ruang kunjungan yang terhubung ke mushala itu sementara ditaruh di gudang. “ Agar ruang kunjungan bisa lebih luas, karena tak jarang ada keluarga yang ingin shalat diimami ayah mereka yang sedang menjalani masa pembinaan,” kata Elka. Pendek kata, pihak Lapas berupaya sebisa mungkin membuat WBP dan kelaurga mereka yang berkunjung nyaman. “Kami mencoba memprioritaskan sisi kemanusiaan, tanpa mengabaikan sisi keamanan dan kewaspadaan,” kata Kalapas Agung.Pas pukul 17.00, petugas mulai mengizinkan keluarga WBP masuk setelah melalui pemeriksaan badan sebagaimana biasa. Di dalam biasanya telah menunggu sanak keluarga mereka yang tengah menjalani masa pembinaan. Tak terlihat tangisan meledak di ruangan itu. Yang terasa sangat hadir adalah wajah-wajah gembira, meski beberapa mata tampak berkaca-kaca. Seorang WBP tampak cukup lama memeluk anaknya, seorang bocah laki-laki tujuh atau delapan tahunan, sebelum melepaskannya. Entah berapa lama ia tak melakukan hal itu, terhalang masa pembinaan yang masih harus ia jalani.“Alhamdulillah, bisa ketemu keluarga, berbuka bersama sampai pukul 19.00,” kata Erisep Fajriyanda, seorang WBP, sumringah. Yanda yang baru berusia 22 tahun itu mengaku bersyukur karena dengan acara tersebut terbuka peluang berbuka bersama keluarganya yang datang jauh-jauh dari Lampung. “Bisa mengenang masa-masa bebas. Insya Allah, saya juga bebas nanti,” kata Yanda, yang bergabung dengan kegiatan Pramuka di Lapas untuk mengisi hari-harinya.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar