Ini Cara KPU Balas Tudingan Pemilu Curang oleh Tim Prabowo-Sandi


FAJAR.CO.ID, JAKARTA–Ketua Tim Hukum Prabowo-Sandiaga Uno, Bambang Widjojanto‎ (BW) menyebut pemilu 2019 paling buruk dalam sejarah. Berbagai masalah yang terjadi selama penyelenggaraan menjadi dasar pihaknya melayangkan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK).Berbeda dari tudingan BW, Komisioner Komisi Pemilihan Umum RI (KPU), Viryan Aziz mengatakan, pemilu 2019 lebih baik dari era Orde Baru. Sebab, katanya, saat Orde Baru, masyarakat tidak bisa memberikan kritik.Sementara pada Pemilu 2019 ini, penyelenggara pemilu benar-benar transparan. Masyarakat bisa ikut memantau dan memberikan kritik.

M Yasir Umrah, Rismayani Tolak Komentar, Dugaan Baru Ada Pemalsuan Dokumen

“Prinsip dasar adalah free and fair (bebas dan adil). Nah, kalau (Pemilu Orde Baru) bebasnya di mana? Masyarakat ada tidak dalam catatan sejarah bisa protes seperti ini? Kan tidak ada,” ujar Viryan saat dikonfirmasi, Kamis (30/5).Terpisah, Komisioner KPU lainnya, Pramono Ubaid Tanthowi melalui Twitter resminya mengatakan, sepanjang sejarah, partisipasi pemilih saat pemilu terus mengalami peningkatan.Pramono mengatakan, pemilu di Indonesia pernah mengalami tren penurunan angka partisipasi pemilih yang cukup tajam sejak 1999 dan 2009. Namun, pada Pemilu 2014 dan 2019 perlahan-lahan semakin baik.“Pemilu kita pernah alami tren penurunan angka partisipasi pemilih (voter turnout) cukup tajam sejak 1999 hingga 2009,” kata Pramono lewat akun Twitter miliknya @PramonoUtan.

Jemaat Gereja Beri 2.200 Parsel Lebaran untuk Warga Kurang Mampu

“Tren itu alami rebound sejak Pemilu 2014. Di 2019 kenaikan kembali terus berlanjut. Bahkan lampaui target nasional (77,5 persen). Puji syukur Alhamdulillah,” tambahnya.

Komentar

Loading...