Kilas Balik Sepak Bola Sulsel, Kontribusi Etnis Tionghoa Sejak Era PerserikatanSepak bola

Kamis, 30 Mei 2019 - 13:14 WIB
Keng Wie alias Budi Wijaya yang pernah eksis bersama PSM era 1963 hingga 1974. Banyak foto hitam putih yang diperlihatkan sebagai bukti prestasinya kala itu. (Repro-dukumen pribadi)

Sulsel, sejak awal tidak bisa dilepaskan dari kehadiran pemain-pemain keturunan. Khususnya PSM Makassar yang banyak dihuni pemain keturunan Tionghoa.

Laporan: Abadi Tamrin

JEJAK kehadirannya tertera dalam perjalanan sepak bola Sulsel. Sebab, mereka menjadi bagian penting sepak bola Sulsel saat PSM menjuarai kompetisi Piala PSSI di era perserikatan 1965. Bahkan, PSM punya klub binaan khusus bernama Cunghua yang diisi pemain-pemain keturunan.

Sebutlah, salah satunya, Keng Wie alias Budi Wijaya yang pernah eksis bersama PSM era 1963 hingga 1974. Banyak foto hitam putih yang diperlihatkan sebagai bukti prestasinya kala itu.

Foto-foto dibingkai rapi hingga ada yang di album. Tetap terawat meski tampaknya tidak sejernih foto warna-warni seperti era milenial saat ini.

Dengan bangga Keng Wie memperlihatkan sederet fotonya. Saat album dibuka langsung memperlihatkan Keng Wie mengangkat trofi Piala PSSI tahun 1965. Ini tentu saja, mengingatkannya saat dia menjadi bagian klub kebanggan masyarakat Sulsel ini.

“Saya simpan baik-baik ini. Beruntung sekali saya masih punya foto ini,” katanya terharu.

Sang “Benteng Putih”, ya seperti itu julukan Keng Wie saat masih aktif bermain. Alasannya, tak lepas dari perannya yang sebagai bek tengah dan slogan putih ditujukan karena dia adalah pemain paling putih di tim saat legenda Ramang masih bermain.

“Saya tujuh tahun setim dengan Ramang,” ucapnya sembari membuka lembaran foto lain di albumnya.

Keng Wie mengenang di eranya tidak ada pemain yang pernah menuntut gaji. Bisa berkostum untuk PSM dan setim dengan legenda Ramang sudah merupakan kebahagiaan lahir dan batin buatnya.

“Kita kadang diberi beras satu kantong. Itupun sekali-sekali saja. Tidak ada gaji atau pun uang didapat walaupun kita juara. Jersey pun harus dikembalikan sudah dipakai, baju latihan juga kita beli sendiri. Sepatu kalau rusak baru digantikan yang baru,” terang Keng Wie.

Sambil meneguk segelas air, Keng Wie melanjutkan ceritanya. Ya, di usianya yang sudah menginjak 75 tahun, dia mengatakan harus lebih banyak meminum air putih agar bisa lebih sehat.

“Tapi saya tidak pernah mengeluh. Saya percaya rezeki sudah diatur. Sampai saat ini saya sangat bangga bisa berkostum PSM,” papar Keng Wie yang memulai karier di klub binaan PSM, Cunghua dan gantung sepatu di PSM di usia 31 tahun.

Di pengujung lembaran album foto terakhir, Keng Wie masih bisa mengingat dimana dia memutuskan berhenti sekolah di salah SMP Tionghoa kala itu demi bisa bermain bola.

Keng Wie alias Budi Wijaya, mantan pemain PSM era 1963 hingga 1974. (Foto: Tawakkal/FAJAR)

“Sekolah saya sore sementara saya latihan di Karebosi juga sore,” terangnya, yang mulai belajar sepak bola di klub binaan PSM, Cunghua yang notabane pemain keturunan.

Di lembaran saat dia pernah berlatih di Karebosi dan bertanding di Stadion Gelora Andi Mattalatta membuatnya terkenang betapa identiknya dua lokasi ini sebagai ikon pertumbuhan sepak bola di Makassar.

“Dulu itu lapangan di Karebosi ada lima. Ada lebih sepuluh klub binaan PSM latihan di sana. Lapangannya bagus karena khusus dipakai main bola saja,” cetus Keng Wie yang turut prihatin kondisi Karebosi saat ini yang kian tak terurus.

Lapangan Karebosi era milenial saat ini ada tiga. Namun rumput dan tanahnya tidak rata. Bahkan tergenang kalau banjir atau palingan becek parah. “Dulu karebosi tidak ada banjir. Kita juga yang potong rumputnya kalau panjang. Kita urus baik-baik jadi bagus dipakai latihan,” paparnya.

Tak lupa, Keng Wie juga mengatakan, khusus PSM memiliki tempat latihan khusus di Stadion Andi Mattalatta. Tak ada klub selain PSM yang boleh menggunakannya. “Makanya menjadi suatu kebanggan besar bergabung PSM,” ucapnya. (*/arm)

(Bersambung ke tulisan berikutnya…..)