Sebait Kalimat di Buku Jadi Pesan Terakhir Pria yang Gantung Diri

Kamis, 30 Mei 2019 - 10:41 WIB
EVAKUASI: Tubuh Suryadi sempat dibawa ke RS IA Moeis untuk divisum sebagai bagian dari kepentingan penyelidikan kepolisian. RESTU/KP

FAJAR.CO.ID,KALTIM— Suryadi yang terkenal rendah hati terlihat murung beberapa hari terakhir. Dia dirundung masalah. Sayang, cara keliru dia ambil untuk menyelesaikan problemnya.

“AKU minta maaf, jaga anak baik-baik. Aku sudah tidak sanggup.” Sebait kalimat itu tertulis di sebuah buku. Di halaman lain, tercantum pula detail permasalahan yang dia hadapi. Termasuk kondisi hubungannya dengan sang istri.

Tulisan itu sedikitnya mampu menjelaskan ketika keluarga menemukan Suryadi tergantung tanpa nyawa di kamar tidur rumahnya, Jalan Bung Tomo, Gang Syukur, Baqa, Samarinda Seberang, kemarin (28/5).

Suryadi ditemukan dengan leher terjerat tali nilon kuning dan kain. Nilon yang dipakai menggantung ayunan anaknya. Sebuah kain menyumpal mulutnya. Sementara itu, buku berisi kalimat-kalimat wasiat itu tergeletak tidak jauh dari jasadnya.

Tijah (58), ibunya, menangis sejadi-jadinya. Dia tidak menyangka anak ketiganya itu memilih pergi dengan cara tak lazim. Terakhir kali dia melihat Suryadi sedang mengenakan pakaian salat putih, lengkap dengan kopiah dan sarung bermotif kotak-kotak cokelat.

Tijah menceritakan, pagi harinya, masih sempat berpapasan dengan Suryadi. “Sempat ditanya, ‘Kok belum berangkat kerja?’,” ungkap Tijah. Sebelumnya, Suryadi pula yang membangunkannya sahur. “Terakhir lihat dia minum kopi. Dia juga bilang masuk kerja malam,” sambung Tijah.

Dia tidak menyangka anaknya yang bekerja sebagai sopir di salah satu perusahaan tambang di Kutai Kartanegara (Kukar) itu berbuat nekat. Sekitar pukul 09.00 Wita, sang ibu mulai resah lantaran melihat pintu kamar anaknya terkunci rapat. Dia pun terperanjat ketika mengintip dari ventilasi. Sejurus kemudian dia menghambur ke luar rumah mencari pertolongan.

Motif bunuh diri karena masalah keluarga semakin kuat karena di dalam wasiat itu terdapat sebait pesan yang menyiratkan pertengkaran antara dia dan sang istri. “Daripada kamu tinggalkan aku, lebih baik aku tinggalkan dunia ini selamanya.”

Selain itu, dalam kalimat lainnya, dia meminta agar keluarga mencairkan gaji serta BPJS Ketenagakerjaan miliknya. Dia juga mencantumkan nomor telepon orang yang bisa membantu pencairan tersebut. Dia juga minta tolong keluarga untuk mengirimkan uang kepada anak dan istrinya yang kini di Sulawesi. “Karena ada sesuatu yang enggak bisa aku tahan, aku bendung dalam hidupku,” tulisnya lagi.

Kanit Reskrim Polsek Samarinda Seberang Iptu Teguh Wibowo berucap, jasad Suryadi dibawa ke RSU Inche Abdoel Moeis untuk di-visum et repertum (VER). “Tidak ada autopsi, karena itu permintaan keluarga,” tegas perwira berpangkat balok dua di pundak itu.

Deretan kalimat wasiat Suryadi memenuhi lima halaman buku. “Biarkan aku dapat kemerdekaan di Ramadan tahun ini. Selamat tinggal semuanya,” tulisnya sebagai penutup wasiat tersebut. (prokal)