Guru Honorer Pendukung Prabowo Ditahan Kasus Hoaks, Ini Pengakuannya

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, PALANGKA RAYA — Polda Kalteng terus memproses hukum Hardianor alias Nuy alias Annoy (23) dan Risnawati (34), dalam kasus dugaan hoaks dan ujaran kebencian. Keduanya mengunggah kalimat di medsos yang berkaitan dengan hasil pemilu dan kejadian rusuh pada 22 Mei lalu.

Risnawati merupakan pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Perempuan yang berprofesi sebagai guru honorer di Kotawaringin Timur itu, juga kerap membuat tulisan yang menyerang kebijakan pemerintah.

Hardianor mengunggah tulisan dengan menyebut polisi menggunakan peluru tajam untuk membunuh rakyat, yang dipasang dengan gambar Presiden RI, Joko Widodo.

Penggunaan peluru tajam sebelumnya sudah dibantah Polri. Selain itu, ada beberapa tulisan lainnya yang lebih vulgar dan mengandung ujaran kebencian.

Penyidik mendalami dugaan adanya keterlibatan pihak lain dalam tindak pidana yang mereka lakukan.

Kepada penyidik, kedua tersangka mengaku perbuatan yang menjerat mereka merupakan inisiatif sendiri, tidak ada yang memerintah.

Puasa dan Kuasa

”Kami masih dalami kasus kemarin. Kami juga terus pantau media sosial melalui Tim Cyber Krimsus Polda Kalteng. Sementara ini tersangka masih dua, lainnya masih didalami. Termasuk apakah ada aktor lain di belakang keduanya,” kata Direktur Reskrimsus Polda Kalteng Kombes Pol Adex Yudiswan, Selasa (28/5).

Adex menuturkan, keduanya sudah resmi ditahan. Penyidik menjerat mereka dengan UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) Pasal 45 jo Pasal 28 Ayat 2 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008, Pasal 14 Ayat 2 UU RI Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

”Ancaman hukumannya enam tahun dan atau denda satu miliar. Ada juga yang tiga tahun. Namun, yang pasti keduanya resmi ditahan dan proses hukum dilanjutkan. Sekali lagi ini bukan politik, tetapi penegakan hukum sesuai aturan,” ujar perwira menegah Polri ini.

Adex menegaskan, pihaknya tidak akan tinggal diam dan akan terus bergerak memantau media sosial agar tidak ada lagi yang menyebarkan berita hoaks, ujaran kebencian, dan unsur suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). ”Saya ingatkan, jangan sebar hoaks,” katanya.

Kabid Humas Polda Kalteng, Kombes Hendra Rochmawan mengatakan, pihaknya kembali memanggil warga yang diduga menyebarkan berita hoaks, yakni Msn (37), warga Palangka Raya.

Kreasi Hamzah

Pemilik akun Facebook dengan nama Nia Ahmad itu diduga mengunggah berita bohong atau hoaks, tentang kasus pemukulan terhadap perusuh di dekat Masjid Al Huda Jakarta.

Selain itu, Msn juga menulis Polri tidak memproses hukum anak di bawah umur keturunan Cina yang menghina dan mengancam Presiden Joko Widodo. Padahal, faktanya anak tersebut telah diproses hukum.

”Kepada warganet, agar bijak bermedia sosial. Saring sebelum sharing dan stop HPUS (hoaks, pornografi, ujaran kebencian, dan SARA, Red. Saat ini dibina dan diberikan edukasi agar bijak bermedia sosial, setelah itu nanti akan diserahkan ke Subdit Cyber Troop Ditreskrimsus Polda Kalteng,” ujarnya. (jpnn)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...