Menjaring Pesan Langit

Jumat, 31 Mei 2019 - 08:08 WIB
Mohd. Sabri AR. (ist)

Oleh: Mohd. Sabri AR

Ramadan kian temaram. Pintu-pintu langit terbuka luas. Cakrawala ruhani merona jingga, meletup lembut dalam gelombang dzikir yang senyap: lamat-lamat perihal “Yang Ilahi” hadir dalam semesta kode agung. Ego autentik pun senyum-riang dalam tangis.

Tampaknya, “ego” tak hanya dikukuhkan Descartes, di sebilah kota kecil di Negeri Belanda di abad ke-17. Percakapan ego-autentik justru terbit dari pesan kudus langit: Demi Langit dan Misteri Malam. Dan tahukah kamu apa yang terkadung dalam misteri malam? Bintang yang berpendar cahayanya. Setiap ego pasti ada penjaganya. Maka hendaklah setiap ego mengkaji dari apa dia dicipta. Dia dicipta dari air yang terpancar. Yang keluar dari tulang punggung dan tulang dada.” (Qs. 7:1-7).

Pesan langit tersebut memainkan tiga kode, guna menyingkap substansi ego: “langit” (al-sama‘), “misteri malam” (al-thariq) dan “bintang yang berpendar” (al-najm al-staqib). Langit adalah tanda ketinggian, jejak kemuliaan. Hal ini mengandaikan ego-autentik sejatinya bagian dari elemen langit, bukannya bumi. Itu sebab, dalam kaji spiritualisme Islam, manusia modern diandaikan ego-ego yang terjebak pada simulakrum “aku-bumi” yang telah kehilangan narasi-langit dan acapkali disorientasi arah ketika dikerkah masalah-masalah hidup. Jalaluddin Rumi, di titik ini bersenandung dalam syairnya: “Duhai, ego! Mengapa engkau musti meratapi hidupmu di bumi, bukankah di bawah kakimu ada tujuh lapis langit?

Malam identik dengan jagat rahasia. Ego-autentik, sebab itu adalah juga sehelai misteri, sebagai jejak napas Sang Maha Misteri di dalam setiap ego. Sejatinya, misteri-ego-autentik, dikukuhkan di kegelapan malam. Ibarat “bintang berpendar cahayanya” justru ketika ia dikepung kegelapan malam. Alquran pun meletakkan malam sebagai medium paling senyap untuk mengkaji ego-autentik: “Dan pada sebagian malam, tegakkanlah tahajjud, (di sana) amat banyak kebajikan tak tepermanai, Dan Tuhanmu akan mengangkatmu pada level orang-orang istimewa” (Qs. 17:79).

Ketika dunia modern telah memosikan malam sebagai detak waktu yang identik dengan kejahatan, dunia durjana dan demoralisasi, Alquran justru meneguhkan sebaliknya: malam adalah masa di mana pintu-pintu langit terbuka luas untuk mencurahkan perkabaran-perkabaran kudus-Nya. Manusia modern, setidaknya pendakuan S.H. Nasr dalam Knowledge and the Sacred (1981) adalah manusia yang terlempar pada lingkar-lingkar luar eksistensinya (mundis), dan kehilangan pusat ego-autentiknya (axis).

Di titik kesadaran ini, kita pun menjaring makna hermeneutis sebilah nubuah Nabi Muhammad saw.: “Barangsiapa menegakkan malam-malam ramadhan yang bertumpu pada napas iman yang sublim dan dorongan sungguh-sungguh mengkaji ego autentik, Allah akan meluruhkan dosa-dosanya yang silam”. Itu sebab, Allah swt. memilih tonggak waktu penuh napas cinta-Nya justeru di laylat al-qadr, sepenggal malam yang berlimpah kedamaian, cahaya, dan keagungan di setiap pengujung bulan suci. (*)