Sejarah Sepak Bola Sulsel, Kompetisi Lokal Sudah Ada di Awal Kemerdekaan

0 Komentar

Persepakbolaan Sulsel langsung menggema begitu Negeri ini lepas dari bayang-bayang kolonial. Bibit pemain bermunculan dan menembus level nasional.

ARDIANSYAH HENDARTIN
Laporan: Jakarta

BERMAIN sepak bola memang sudah membumi di Tanah Celebes sejak masa penjajahan. Ini yang membuat pada dekade awal kemerdekaan, dengan mudah kompetisi bisa langsung digelar. Berbagai daerah di Sulsel pun langsung semarak dengan pertandingan-pertandingan antar kampung.

PSM Makassar sebagai kiblat sepak bola di Sulsel menjadi tujuan pada pemain lokal. Berseragam PSM adalah kebanggaan. Bahkan bisa dikatakan, seperti mendapat gelar bangsawan, jika sukses menembus skuat klub kebanggaan masyarakat Sulsel ini.

Kompetisi saat itu memang cukup intens digelar. Bahkan ada empat level kompetisi yang menjadi jembatan untuk menjadi pemain penting di Sulsel. Beberapa anak muda dari berbagai daerah unjuk kemampuan di empat kompetisi ini. Level kompetisi yang digulirkan memang sengaja diformat untuk menyaring bibit unggul.

Inilah yang membuat sepak bola Sulsel sangat disegani. Banyak pemain Sulsel yang menjadi andalan PSSI dalam level internasional. Mereka yang tampil sebagai pemain kunci pun datang dari berbagai kalangan. Lapangan Karebosi sebagai ikon sepak bola menjadi saksi hidupnya kompetisi lokal.

Salah satu legenda PSM. Oei Sik Tyong yang beken dengan panggilan Harry Tjong bercerita tentang sepak bola masa itu. Bahkan dia yang sebenarnya menggeluti olahraga basket, malah balik haluan ke dunia lapangan hijau. Meskipun, orang tuanya sangat melarangnya. “Karena kakak saya dahulu pemain bola. Dia cedera parah. Bagian lengan dan kakiknya patah,” kata Harry.

Harry menyebut, sepak bola di Makassar pada masanya begitu diminati. Maka tak heran jika kompetisi PSM menjadi liga amatir yang selalu dirindukan masyarakat kala itu. Klub-klub yang bertarung selalu punya spirit untuk juara. Ada Persis yang kala itu diperkuat Ramang dan beberapa pilar tangguh lainnya semisal Nursalam yang nantinya bakal mendominsi skuat PSM Ujung Pandang.

Harry sendiri bergabung di Main Oentuk Sport (MOS). Kala itu 1954, usianya 17 tahun. MOS yang krisis kiper mencari orang tangguh di bawah mistar. “Saya dipanggil teman. Ke lapangan MOS untuk latihan. Mungkin karena pelatih tertarik melihat bakat saya, makanya dipanggil untuk gabung,” ucap lelaki kelahiran Makassar 1937 ini.

Kompetisi PSM saat itu menjadi turnamen sepak bola yang paling bergengsi di Sulsel. Periode itu sepak bola menjadi olahraga yang benar-benar sangat digemari. begitu banyak calon pemain yang ikut seleksi. “Saking banyaknya, sehingga kompetisi dibagi dalam empat divisi. Mulai dari divisi empat hingga kasta tertingginya divisi satu,” sebutnya.

Pemain PSM, kata dia, dari berbagai latar belakang. Bahkan dari militer pun punya impian sama. Malah pada periode itu ada satu legenda Timnas berlatar belakang militer yang juga lihai di bawah mistar. “Dia pak Maulwi Saelan. Sama dengan posisi saya, kiper,” ucap Harry.

Di karebosi banyak klub yang berlatih. Atmosfer sepak bola sedang bagus-bagusnya. Kata Harry, mereka yang sukses menjadi pemain profesional, mendapatkan posisi terhormat di masyarakat. “Makanya kita rela tak dibayar. Karena pemain bola kita seperti bangsawan, dielu-elukan rakyat,” kata Harry.

1956, Harry resmi berseragam PSM. Bahagia tak terkira. Meski kala itu dirinya hanya menjadi kiper keenam. Kala itu Maulwi Saelan menjadi penjaga gawang utama tim. “Untuk posisi kiper saja sudah banyak pemainnya. Sudah bisa dibayangkan di PSM saja persaingan untuk masuk tim utama sudah luar bisa ketat,” kenang Harry.

Diam-diam pelatih PSM, Erents Alberth Mangindaan melihat potensi yang dimiliki Harry. Koneksi Mangindaan dengan PSSI yang kuat saat itu nama Harry direkomendasikan ikut seleksi timnas. “Saya masih ingat saat itu pelatih timnas Tony Pogacnik meminta saya untuk membela Garuda,” jelasnya.

Di era Mangindaan, PSM menjelma menjadi tim yang sangat disegani. Ayam Jantan dari Timur kala itu dikenal dengan trio penyerang Ramang, Suwardi, dan Nursalam. “Kita benar-benar komplet hampir di semua lini. Dan, Ramang lah yang menjadi nama yang kini melegenda,” kata Harry.

“Memang kan dahulu, susah cari hiburan. Tidak ada taman bermain. Semua serba terbatas. Jadi sepak bola satu-satunya hiburan. Jadi wajar banyak sekali peminatnya. Beda dengan sekarang,” tandasnya. (*/arm)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...