Warga TNI-AU di Makassar Peringati Hari Lahir Pancasila

Sabtu, 1 Juni 2019 - 13:43 WIB
Pangkoopsau II Marsda TNI Henri Alfiandi bertindak sebagai Irup pada upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Makoopsau II.

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR –- Segenap warga TNI Angkatan Udara di Makassar, memperingati Hari Lahir Pancasila, 1 Juli 2019. Di Makoopsau II, upacara peringatan ditandai dengan Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara (Pangkoopsau) II Marsda TNI Henri Alfiandi bertindak selaku Inspektur Upacara di Lapangan Apel I Makoopsau II. Dihadiri Kepala Staf Koopsau II Marma TNI Andi Kustoro, Ir Koopsau II, para Asisten, Komandan, Staf Ahli, para Kepala, Perwira, Bintara, Tamtama, dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Makoopsau II.

Sementara di Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Sultan Hasanuddin, bertindak sebagai Irup Danlanud Sultan Hasanuddin Marsma TNI H. Haris Haryanto, di Apron  Galaktika Lanud Sultan  Hasanuddin, yang dihadiri seluruh anggota Lanud Sultan Hasanuddin, Wing 2 Paskhas, Batalyon Komando 466 Paskhas, dan Denhanud 472 Paskhas baik militer maupun Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Pada kesempatan ini, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia Hariyono dalam sambutan tertulisnya dibacakan masing-masing Irup mengatakan, Pancasila sebagai dasar negara, ideologi negara dan pandangan hidup bangsa yang digali oleh para “pendiri bangsa” merupakan suatu anugerah yang tiada tara dari Tuhan Yang Maha Esa buat bangsa Indonesia.

“Walaupun kita sebagai bangsa masih belum secara sempurna berhasil merealisasikan nilai-nilai Pancasila, kita akui bahwa eksistensi keindonesiaan baik sebagai bangsa maupun sebagai Negara masih dapat bertahan hingga kini berkat Pancasila,” ungkap Hariyono.

Menurutnya, Pancasila sebagai suatu keyakinan dan pendirian yang asasi harus terus diperjuangkan. Keberagaman kondisi geografis, flora, fauna hingga aspek antropologis dan sosiologis masyarakat hanya dapat dirajut dalam bingkai kebangsaan yang inklusif. Proses internalisasi sekaligus pengalaman nilai-nilai Pancasila harus dilakukan dan diperjuangkan secara terus menerus. Pancasila harus tertanam dalam hati yang suci dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dikatakan, berkat Pancasila yang berkelindan dengan nilai-nilai inklusivitas, toleransi dan gotong royang keberagaman yang ada dapat dirajut menjadi identitas nasional dalam wadah dan slogan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Peringatan hari kelahiran Pancasila 1 Juni bukan sesuatu yang terpisah dari momentum perumusan “Piagam Jakarta” oleh “panitia kecil” tanggal 22 Juni dan pengesahan Pancasila dalam Pembukaan UUD 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 18 Agustus 1945.

Jadi tiga peristiwa penting tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dengan demikian, “kita harapkan perdebatan tentang kelahiran Pancasila sudah tidak diperlukan lagi. Yang diperlukan mulai saat ini adalah bagaimana kita semua mengamalkan dan mengamankan Pancasila secara simultan dan terus menerus,” ujarnya.

Dijelaskan, dengan merayakan hari kelahiran Pancasila, kita bangun kebersamaan dan harapan untuk menyongsong kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Pancasila sebagai ”leitstars dinamis”, bintang penuntun mengandung visi dan misi negara yang memberikan orientasi, arah perjuangan dan pembangunan bangsa kedepan. Sebagai energi positif bangsa, Pancasila terus memberikan harapan untuk masa depan, khususnya dalam merealisasikan visi dan misi bangsa Indonesia. (lis)