Kisah tentang Memo dan Sari Kacang Hijau di Pesawat Kepresidenan


Oleh Tomy C Gutomo*

FAJAR.CO.ID, JAKARTA–Saat mendengar kabar Ibu Ani Yudhoyono kritis dan dirawat di ICU, saya sudah gelisah. Apalagi dikabarkan juga, seluruh anak dan cucu sudah berada di National University Hospital (NUH) Singapura.Grup WhatsApp wartawan istana di era SBY sudah ramai membicarakan kondisi Bu Ani. Ingatan saya pun melayang ke 10-15 tahun silam. Selama hampir lima tahun saya menjadi wartawan istana kepresidenan, tepatnya pada periode pertama kepemimpinan SBY.Terakhir bertemu Bu Ani pada 29 Maret 2017 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Saat itu, Bu Ani mendampingi SBY menerima Anugerah Prapanca Agung dari PWI Jatim.Ternyata, Bu Ani masih mengenal saya. Dia menanyakan kabar saya dan keluarga.Saya tidak mengira Bu Ani masih ingat. Sebab, pertemuan saya dengan Bu Ani sebelumnya terjadi pada 2009, saat musim kampanye pemilihan presiden.Akhirnya, kabar duka itu datang menjelang zuhur kemarin. Bu Ani mengembuskan napas terakhir pukul 11.50 waktu Singapura.Anggota grup WhatsApp mantan wartawan istana pun berbagi kenangan tentang Bu Ani. Bulan lalu teman-teman wartawan istana era SBY menengok ke NUH Singapura. Ditemui langsung oleh SBY. Sayang, saya tidak bisa ikut saat itu.Selama saya meliput di istana, Bu Ani memang cukup dekat dengan wartawan. Dia hafal banyak nama wartawan istana.Kalaupun tidak hafal nama, biasanya dia niteni wartawan-wartawan di istana. Apalagi kalau wartawan itu “berbobot” (maksudnya overweight) seperti saya waktu itu.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar